KETAHANAN
PANGAN DI PAPUA
![]() |
Disusun
Untuk Memenuhi Syarat Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi
Dosen
Pengampu : Riva M Anugerah, S.Gz
Oleh
Kelompok
: 4
1.
Ayu Marlinda Sari (060110a002)
2.
Dewi Ratnasari (060110a007)
3.
Gabriella Anindita (060110a011)
4.
Titin Ida Zulianingsih (060110a028)
5.
Yunita Budiarti (060110a031)
6.
Junendri Ardian (060801009)
PROGRAM
STUDI ILMU GIZI
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
NGUDI
WALUYO
UNGARAN
2013
PENDAHULUAN
Pangan
adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian,
perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, periran dan air termasuk bahan
tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang baik diolah maupun tidak
diolah. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama, karena itu
pemenuhannya menjadi hak asasi setiap individu.
Ketahanan
Pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan
perseorangan yang tercermin dari, tersedianya pangan yang cukup jumlah maupun
mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau untuk hidup sehat,
aktif, produktif dan berkelanjutan.
Tanah Papua yang sering disebut
Bumi Cenderawasih dijuluki pula sebagai “tanah penuh harapan”, dengan
jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 2.576.822 jiwa dan sekitar 70% tinggal
di perdesaan/perkampungan dan pegunungan. Pada tahun 2010 jumlah penduduk yang
hidup dibawah garis kemiskinan sebanyak 761.000 jiwa. Wilayah Papua adalah wilayah yang
memiliki dan menyimpan potensi sumber alam yang cukup kaya, termasuk potensi
pangan lokalnya, tetapi papua sendiri termasuk daerah cukup rawan produksi
pangannya.
PEMBAHASAN
Pangan lokal merupakan produk pangan yang telah lama
diproduksi, berkembang dan dikonsumsi di suatu daerah atau suatu kelompok
masyarakat lokal tertentu. Umumnya produk pangan lokal yang diolah dari bahan
baku lokal, teknologi lokal, dan pengetahuan lokal pula. Di samping itu, produk
pangan lokal biasanya dikembangkan sesuai dengan preferensi konsumen lokal.
Sehingga produk pangan lokal ini berkaitan erat dengan budaya lokal setempat.
Aneka ragam pangan lokal tersebut berpotensi sebagai bahan alternatif pengganti
beras.
Sebagai contoh, di Papua ada beberapa bahan pangan lokal setempat
yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan baku
pengganti beras, seperti ubi jalar, talas, sagu, gembili, dan jawawut. Selain
ubi jalar, sagu juga merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Papua,
terutama yang berdomisili di dataran rendah atau di pesisir pantai atau danau.
Papua merupakan salah satu wilayah yang memiliki hutan sagu terluas di
Indonesia. Produk pangan lokal tersebut telah beradaptasi dengan baik dan
dikonsumsi masyarakat Papua secara turun temurun. Dengan demikian, pangan lokal
Papua adalah pangan yang diproduksi di Papua dengan tujuan ekonomi atau
produksi. Provinsi Papua tergolong sebagai salah satu provinsi yang rawan akan
pangan terutama beras, dikarenakan akses untuk distribusi pangan tergolong
susah atau sulit untuk dijangkau. Sedangkan masyarakat Papua saat ini sudah
mulai bergantung pada sumber pangan beras karena rasanya yang lebih enak
dibandingkan dengan sagu, ubi jalar ataupun singkong. Ketergantungan
pada beras menimbulkan masalah baru bagi pemerintah daerah setempat karena
harus menyediakan dana untuk subsidi biaya transportasi ke wilayah-wilayah
terpencil. Peran sector swasta dalam pengadaan dan pendistribusian bahan pangan
ini sangat kurang, karena selain biaya operasional tinggi juga daya beli
masyarakat sangat rendah.
Hal tersebut merupakan salah satu dampak kebijakan pemerintah yang
hanya terfokus pada terjaminnya ketersediaan beras. Kebijakan tersebut tanpa
disadari telah mengubah menu asupan karbohidrat masyarakat Papua dari nonberas
ke beras, terutama pada daerah yang secara tradisional mengkonsumsi pangan
bukan beras, seperti kawasan timur Indonesia. Untuk
menghindari masalah ini secara berlanjut, diperlukan upaya untuk mengembalikan
pemanfaatan sumber pangan lokal. Namun, kebijakan pemerintah dalam mendukung
pemanfaatan pangan local tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan.
Sementara itu pada waktu
tertentu, terutama di daerah terpencil, untuk memperoleh beras sangat sulit
karena terbatasnya sarana transportasi. Seperti di Distrik Agimuga, kondisi
lahan di sana memang subur, namun terkendala dengan kondisi infrastruktur jalan
dan terbatasnya pengetahuan/keterampilan dalam pengolahan lahan. Kebutuhan
bahan pokok menjadi mahal karena faktor jarak. Pemenuhan kebutuhan pokok warga
Agimuga menjadi permasalahan yang utama. Sebagian besar dari kebutuhan
sehari-hari di Agimuga didapatkan dari Timika. Biaya perjalanan yang terlalu
mahal, pada akhirnya berdampak pada harga kebutuhan pokok melebihi biaya yang
perlu dibeli.
Oleh
karena kendala akses pangan, sagu merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat
Papua yang tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir yang berair atau rawa
merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu. Pohon sagu di Papua tumbuh secara
alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat. Dengan demikian,
pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan alternatif bagi penduduk maupun untuk
kebutuhan industri sangat menjanjikan. Produksi sagu di Papua jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan kebutuhan untuk konsumsi.
Selain sagu ada daerah yang menggunakan
talas sebagai makanan pokok. talas
merupakan makanan pokok penting di daerah Ayamaru dan Biak Barat.
Rochani (1996) melaporkan, 64% masyarakat Ayamaru mengkonsumsi talas sebagai
makanan pokok. Meskipun masyarakat di daerah lain di Papua juga mengkonsumsi
talas, sifatnya hanya sebagai pangan alternatif.
Dengan adanya kendala terhadap
ketahanan pangan tersebut juga dapat menimbulkan berbagai masalah gizi di Papua,
disebabkan karena adanya keterbatasan dalam mengakses makanan yang nilai
gizinya tinggi. Contoh dari beberapa
masalah gizi tersebut sebagai berikut :
Gizi
buruk
Masalah gizi buruk telah mengancam kelangsungan
hidup anak-anak di Papua sebagai akibat kurangnya asupan makanan bergizi. Gizi
buruk yang dialami anak-anak Papua sangat rentan terjangkit berbagai macam
penyakit seperti tuberkulosis (TBC), malaria dan infeksi saluran pernapasan
atas atau ispa.
Fakta telah menunjukan bahwa kekurangan gizi di
Papua yang menimpa anak terus terjadi. Bahkan dalam Oxfam GB in Indonesia In
Action, disebutkan di tahun 2005 ada sekitar 69,883 jiwa yang menderita gizi
buruk di Papua. 58 orang diantaranya meninggal dunia. Jika dilihat secara
keseluruhan, ternyata kasus kurang gizi dan gizi buruk di Papua sudah sangat
memprihatinkan. Kepala Dinas Kesehatan Papua, dr. Tigor Silaban, pada September
2003 pernah mencatat sebanyak 27,3 % balita menderita kekurangan gizi.
Prevalensi kurang gizi tertinggi disebutkan terdapat di Kabupaten Puncak Jaya,
yakni 61,8 % dan yang terendah di Kabupaten Sorong, yaitu 20,2 %. Sedangkan
rata-rata, prevalensi gizi buruk di Provinsi Papua sebesar 16 % dan gizi kurang
28,9 %.
Pada tahun 2005, angka kurang gizi di Papua sedikit
menurun menjadi 14,3 %. Sedangkan gizi buruk 3,7 %. Dengan demikian,
total gizi kurang dan gizi buruk adalah sebesar 18,0 %. Menurut Silaban, tidak
ada anak balita meninggal dunia karena masalah gizi. Kalaupun ada, hal itu
akibat komplikasi dengan penyakit. Meski begitu, angka kematian balita masih
cukup tinggi di Papua. Tahun 2003, menurut data Dinkes Papua, setiap tahun
lebih dari 9.000 balita, atau 156 per 1.000 kelahiran hidup, di enam kabupaten
meninggal dunia. Kematian bayi sebanyak 6.078 per tahun atau sekitar 112 per
1.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu mencapai 578 per tahun atau
sekitar 1.161 per 100.000 kelahiran hidup.
Data yang disampaikan UNICEF, PBB, pada Februari
2003 ternyata lebih memprihatinkan lagi.
Meski tidak disebutkan akibat gizi buruk namun kematian bayi pada sejumlah
daerah miskin di Indonesia, tetap menjadi perhatian serius badan internasional
itu. Termasuk juga di Papua. UNICEF menyebutkan, angka kematian bayi dan balita
di Papua adalah tertinggi di dunia, yakni mencapai 186/1000 kelahiran hidup dan
angka kematian bayi 122/1000 kelahiran hidup. Selain itu, 12% anak-anak balita
di Papua menderita kekurangan berat badan yang parah. Untuk angka kesehatan ibu
dan anak, UNICEF memperkirakan 3,000 orang anak dari 60,000 bayi yang baru
lahir meninggal sebelum mencapai usia satu tahun. Sedangkan untuk balita, dari
1000 anak, 60 di antaranya meninggal dunia. Begitu pun ibu. Dari 100.000
kelahiran hidup, 500 di antaranya meninggal dunia.
Namun
demikian, hingga kini produk pangan lokal Indonesia belum mampu untuk
mematahkan dominasi pangan dari beras atau tepung terigu. Salah satu
penyebabnya adalah rendahnya inovasi teknologi terhadap produk pangan lokal
tersebut. Di sisi lain, di era global ini, tuntutan konsumen terhadap pangan
terus berkembang. Selera konsumen menjadi faktor yang sangat penting untuk
diperhatikan oleh setiap produsen. Di samping itu, Inovasi teknologi terhadap
pangan lokal bukan saja terhadap aspek mutu, gizi, dan keamanan yang selama ini
didengungkan oleh berbagai pihak. Inovasi teknologi juga harus menyentuh aspek
preferensi konsumen, yaitu kesesuaian; baik kesesuaian terhadap selera,
kebiasaan, kesukaan; kebudayaan, atau terlebih lagi terhadap kepercayaan/agama.
KESIMPULAN
Provinsi Papua merupakan salah satu daerah yang memiliki
keragaman sumber daya hayati yang cukup tinggi, termasuk tanaman sumber pangan
lokal. Sumber pangan lokal Papua yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan
sebagai sumber karbohidrat adalah ubi jalar, talas, sagu, gembili, dan jawawut.
Pangan lokal tersebut telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Papua.
Masyarakat yang berdomisili di daerah pegunungan umumnya mengonsumsi ubi jalar,
talas, dan gembili, sedangkan yang tinggal di pantai memanfaatkan sagu sebagai
pangan pokok. Beberapa jenis ubi jalar, talas, dan sagu telah beradaptasi
dengan baik dan dikonsumsi masyarakat Papua secara turun temurun. Dengan
demikian, komoditas tersebut perlu dikembangkan sebagai sumber pangan utama
bagi masyarakat
sehingga mengurangi ketergantungan pada pangan yang berasal dari
beras. Selain digunakan sebagai sumber pangan utama dan untuk upacara adat,
komoditas pangan lokal Papua juga telah dikembangkan menjadi produk olahan
seperti kue kering yang dikelola dalam skala industri rumah tangga. Tulisan ini
membahas pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif yang
diharapkan dapat menjadi sumber pangan untuk mendukung ketahanan pangan pada
tingkat regional maupun nasional.
DAFTAR
PUSTAKA
Febriandhika
Dimas “Gizi Buruk dan Kelangsungan Anak Papua” Selasa, 03 Januari 2012 http://gizi220292.blogspot.com/2012/01/gizi-buruk-dan-kelangsungan-anak-papua.html
Tim Implementasi PKPP 2012 “Penguatan Kapasitas Masyarakat
Dalam Ketahanan Pangan Di Daerah Tertinggal: Studi Kasus Di Desa Aramsolki,
Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Papua.” http://pkpp.ristek.go.id/index.php/penelitian/detail/819
Ari Akbar Devananta, Mahasiswa Fak. Pertanian UGM, Anggota RCDC
MITI Pleret Yogyakarta March 22, 2013 “Inovasi
Teknologi Pangan Lokal Sebagai Langkah Strategis Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional”
Kamis,
26 Mei 2011. “Papua Masuk Kategori Rawan Pangan”.
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=899
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=899




