Senin, 10 Juni 2013

makalah katahanan pangan

KETAHANAN PANGAN DI PAPUA

 







Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi
Dosen Pengampu : Riva M Anugerah, S.Gz

Oleh
Kelompok : 4
1.                  Ayu Marlinda Sari                        (060110a002)
2.                  Dewi Ratnasari                 (060110a007)
3.                  Gabriella Anindita                        (060110a011)
4.                  Titin Ida Zulianingsih                   (060110a028)
5.                  Yunita Budiarti                (060110a031)
6.                  Junendri Ardian                (060801009)

PROGRAM STUDI ILMU GIZI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NGUDI WALUYO
UNGARAN
2013
PENDAHULUAN
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, periran dan air termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang baik diolah maupun tidak diolah. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama, karena itu pemenuhannya menjadi hak asasi setiap individu.
Ketahanan Pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari, tersedianya pangan yang cukup jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau untuk hidup sehat, aktif, produktif dan berkelanjutan.
Tanah Papua yang sering disebut Bumi Cenderawasih dijuluki pula sebagai “tanah penuh harapan”, dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 2.576.822 jiwa dan sekitar 70% tinggal di perdesaan/perkampungan dan pegunungan. Pada tahun 2010 jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan sebanyak 761.000 jiwa. Wilayah Papua adalah wilayah yang memiliki dan menyimpan potensi sumber alam yang cukup kaya, termasuk potensi pangan lokalnya, tetapi papua sendiri termasuk daerah cukup rawan produksi pangannya.
                                                                       







PEMBAHASAN
            Pangan lokal merupakan produk pangan yang telah lama diproduksi, berkembang dan dikonsumsi di suatu daerah atau suatu kelompok masyarakat lokal tertentu. Umumnya produk pangan lokal yang diolah dari bahan baku lokal, teknologi lokal, dan pengetahuan lokal pula. Di samping itu, produk pangan lokal biasanya dikembangkan sesuai dengan preferensi konsumen lokal. Sehingga produk pangan lokal ini berkaitan erat dengan budaya lokal setempat. Aneka ragam pangan lokal tersebut berpotensi sebagai bahan alternatif pengganti beras.
Sebagai contoh, di Papua ada beberapa bahan pangan lokal setempat yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan baku pengganti beras, seperti ubi jalar, talas, sagu, gembili, dan jawawut. Selain ubi jalar, sagu juga merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Papua, terutama yang berdomisili di dataran rendah atau di pesisir pantai atau danau. Papua merupakan salah satu wilayah yang memiliki hutan sagu terluas di Indonesia. Produk pangan lokal tersebut telah beradaptasi dengan baik dan dikonsumsi masyarakat Papua secara turun temurun. Dengan demikian, pangan lokal Papua adalah pangan yang diproduksi di Papua dengan tujuan ekonomi atau produksi. Provinsi Papua tergolong sebagai salah satu provinsi yang rawan akan pangan terutama beras, dikarenakan akses untuk distribusi pangan tergolong susah atau sulit untuk dijangkau. Sedangkan masyarakat Papua saat ini sudah mulai bergantung pada sumber pangan beras karena rasanya yang lebih enak dibandingkan dengan sagu, ubi jalar ataupun singkong. Ketergantungan pada beras menimbulkan masalah baru bagi pemerintah daerah setempat karena harus menyediakan dana untuk subsidi biaya transportasi ke wilayah-wilayah terpencil. Peran sector swasta dalam pengadaan dan pendistribusian bahan pangan ini sangat kurang, karena selain biaya operasional tinggi juga daya beli masyarakat sangat rendah.
Hal tersebut merupakan salah satu dampak kebijakan pemerintah yang hanya terfokus pada terjaminnya ketersediaan beras. Kebijakan tersebut tanpa disadari telah mengubah menu asupan karbohidrat masyarakat Papua dari nonberas ke beras, terutama pada daerah yang secara tradisional mengkonsumsi pangan bukan beras, seperti kawasan timur Indonesia. Untuk menghindari masalah ini secara berlanjut, diperlukan upaya untuk mengembalikan pemanfaatan sumber pangan lokal. Namun, kebijakan pemerintah dalam mendukung pemanfaatan pangan local tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan.
 Sementara itu pada waktu tertentu, terutama di daerah terpencil, untuk memperoleh beras sangat sulit karena terbatasnya sarana transportasi. Seperti di Distrik Agimuga, kondisi lahan di sana memang subur, namun terkendala dengan kondisi infrastruktur jalan dan terbatasnya pengetahuan/keterampilan dalam pengolahan lahan. Kebutuhan bahan pokok menjadi mahal karena faktor jarak. Pemenuhan kebutuhan pokok warga Agimuga menjadi permasalahan yang utama. Sebagian besar dari kebutuhan sehari-hari di Agimuga didapatkan dari Timika. Biaya perjalanan yang terlalu mahal, pada akhirnya berdampak pada harga kebutuhan pokok melebihi biaya yang perlu dibeli.
Oleh karena kendala akses pangan, sagu merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir yang berair atau rawa merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu. Pohon sagu di Papua tumbuh secara alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat. Dengan demikian, pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan alternatif bagi penduduk maupun untuk kebutuhan industri sangat menjanjikan. Produksi sagu di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan untuk konsumsi.
Selain sagu ada daerah yang menggunakan talas sebagai makanan pokok. talas  merupakan makanan pokok penting di daerah Ayamaru dan Biak Barat. Rochani (1996) melaporkan, 64% masyarakat Ayamaru mengkonsumsi talas sebagai makanan pokok. Meskipun masyarakat di daerah lain di Papua juga mengkonsumsi talas, sifatnya hanya sebagai pangan alternatif.
Dengan adanya kendala terhadap ketahanan pangan tersebut juga dapat menimbulkan berbagai masalah gizi di Papua, disebabkan karena adanya keterbatasan dalam mengakses makanan yang nilai gizinya tinggi. Contoh dari  beberapa masalah gizi tersebut sebagai berikut :

Gizi buruk
Masalah gizi buruk telah mengancam kelangsungan hidup anak-anak di Papua sebagai akibat kurangnya asupan makanan bergizi. Gizi buruk yang dialami anak-anak Papua sangat rentan terjangkit berbagai macam penyakit seperti tuberkulosis (TBC), malaria dan infeksi saluran pernapasan atas atau ispa.
Fakta telah menunjukan bahwa kekurangan gizi di Papua yang menimpa anak terus terjadi. Bahkan dalam Oxfam GB in Indonesia In Action, disebutkan di tahun 2005 ada sekitar 69,883 jiwa yang menderita gizi buruk di Papua. 58 orang diantaranya meninggal dunia. Jika dilihat secara keseluruhan, ternyata kasus kurang gizi dan gizi buruk di Papua sudah sangat memprihatinkan. Kepala Dinas Kesehatan Papua, dr. Tigor Silaban, pada September 2003 pernah mencatat sebanyak 27,3 % balita menderita kekurangan gizi. Prevalensi kurang gizi tertinggi disebutkan terdapat di Kabupaten Puncak Jaya, yakni 61,8 % dan yang terendah di Kabupaten Sorong, yaitu 20,2 %. Sedangkan rata-rata, prevalensi gizi buruk di Provinsi Papua sebesar 16 % dan gizi kurang 28,9 %.
Pada tahun 2005, angka kurang gizi di Papua sedikit menurun menjadi 14,3 %. Sedangkan  gizi buruk 3,7 %. Dengan demikian, total gizi kurang dan gizi buruk adalah sebesar 18,0 %. Menurut Silaban, tidak ada anak balita meninggal dunia karena masalah gizi. Kalaupun ada, hal itu akibat komplikasi dengan penyakit. Meski begitu, angka kematian balita masih cukup tinggi di Papua. Tahun 2003, menurut data Dinkes Papua, setiap tahun lebih dari 9.000 balita, atau 156 per 1.000 kelahiran hidup, di enam kabupaten meninggal dunia. Kematian bayi sebanyak 6.078 per tahun atau sekitar 112 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu mencapai 578 per tahun atau sekitar 1.161 per 100.000 kelahiran hidup.
Data yang disampaikan UNICEF, PBB, pada Februari 2003 ternyata lebih memprihatinkan  lagi. Meski tidak disebutkan akibat gizi buruk namun kematian bayi pada sejumlah daerah miskin di Indonesia, tetap menjadi perhatian serius badan internasional itu. Termasuk juga di Papua. UNICEF menyebutkan, angka kematian bayi dan balita di Papua adalah tertinggi di dunia, yakni mencapai 186/1000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi 122/1000 kelahiran hidup. Selain itu, 12% anak-anak balita di Papua menderita kekurangan berat badan yang parah. Untuk angka kesehatan ibu dan anak, UNICEF memperkirakan 3,000 orang anak dari 60,000 bayi yang baru lahir meninggal sebelum mencapai usia satu tahun. Sedangkan untuk balita, dari 1000 anak, 60 di antaranya meninggal dunia. Begitu pun ibu. Dari 100.000 kelahiran hidup, 500 di antaranya meninggal dunia.
                                                                   
Namun demikian, hingga kini produk pangan lokal Indonesia belum mampu untuk mematahkan dominasi pangan dari beras atau tepung terigu. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya inovasi teknologi terhadap produk pangan lokal tersebut. Di sisi lain, di era global ini, tuntutan konsumen terhadap pangan terus berkembang. Selera konsumen menjadi faktor yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap produsen. Di samping itu, Inovasi teknologi terhadap pangan lokal bukan saja terhadap aspek mutu, gizi, dan keamanan yang selama ini didengungkan oleh berbagai pihak. Inovasi teknologi juga harus menyentuh aspek preferensi konsumen, yaitu kesesuaian; baik kesesuaian terhadap selera, kebiasaan, kesukaan; kebudayaan, atau terlebih lagi terhadap kepercayaan/agama.






KESIMPULAN
Provinsi Papua merupakan salah satu daerah yang memiliki keragaman sumber daya hayati yang cukup tinggi, termasuk tanaman sumber pangan lokal. Sumber pangan lokal Papua yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat adalah ubi jalar, talas, sagu, gembili, dan jawawut. Pangan lokal tersebut telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Papua. Masyarakat yang berdomisili di daerah pegunungan umumnya mengonsumsi ubi jalar, talas, dan gembili, sedangkan yang tinggal di pantai memanfaatkan sagu sebagai pangan pokok. Beberapa jenis ubi jalar, talas, dan sagu telah beradaptasi dengan baik dan dikonsumsi masyarakat Papua secara turun temurun. Dengan demikian, komoditas tersebut perlu dikembangkan sebagai sumber pangan utama bagi masyarakat
sehingga mengurangi ketergantungan pada pangan yang berasal dari beras. Selain digunakan sebagai sumber pangan utama dan untuk upacara adat, komoditas pangan lokal Papua juga telah dikembangkan menjadi produk olahan seperti kue kering yang dikelola dalam skala industri rumah tangga. Tulisan ini membahas pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif yang diharapkan dapat menjadi sumber pangan untuk mendukung ketahanan pangan pada tingkat regional maupun nasional.









DAFTAR PUSTAKA

Febriandhika Dimas Gizi Buruk dan Kelangsungan Anak Papua Selasa, 03 Januari 2012 http://gizi220292.blogspot.com/2012/01/gizi-buruk-dan-kelangsungan-anak-papua.html

Tim Implementasi PKPP 2012 “Penguatan Kapasitas Masyarakat Dalam Ketahanan Pangan Di Daerah Tertinggal: Studi Kasus Di Desa Aramsolki, Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Papua.” http://pkpp.ristek.go.id/index.php/penelitian/detail/819

Ari Akbar Devananta, Mahasiswa Fak. Pertanian UGM, Anggota RCDC MITI Pleret Yogyakarta March 22, 2013 “Inovasi Teknologi Pangan Lokal Sebagai Langkah Strategis Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional”








Tidak ada komentar:

Posting Komentar