Kamis, 19 September 2013

LAPORAN STUDI KASUS INSTITUSI RUMAH SAKIT



KASUS 1
            Kegiatanpenyelenggaraanmakanan di RSUD A ruang VIP diselenggarakansecara outsourcing olehperusahaan catering diet yaitu PT. G dengansatu orang ahligizi, kerjasamatersebutsudahberlangsungselama 3 tahun. PT. G menerapkansiklus menu 10 haridengantambahan menu 31 danselamatigatahuntersebutsudahmelakukan 3 kali perubahanpadasiklus menu.
            SaatinipihakinstalasigiziRumahSakitsedangmengadakanevaluasimengenaipenyelenggaraanmakananoleh PT. G dikarenakanselaluterdapatsisamakanan (30%) setiappemberian menu ganjilterutamapadamakanmalam, selainitu menu untukpasien DM mendapatkankritikdaripasienkarena formula khusus DM hanyadiberikansatu kali danbuah yang diberikanuntukpasien DM hanyasebatas melon, jeruk, papaya, dantidakpernahmendapatkanbuah yang lain.
            Bantulah RSUD A untukmenyelesaikanpermasalahannya !



  1. PERUMUSAN MASALAH
1.      Identifikasi Masalah
1.1.Penilaian
Penilaian yang dilakukan di RSUD Aadalah dengan menganalisa kegiatan penyelenggaraan makanan di instalasi gizi adalah sebagai berikut:
a.       Daya terima pasien kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama pada makan malam.
b.      Perubahan siklus menu yang terlalu sedikit ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali perubahan siklus menu.
c.       Adanya kritrik dari pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
d.      Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
1.2.Perumusan Masalah
a.       Man
1)      Kurangnya koordinasi antara ahli giziRSUD A dengan pihak PT G mengenai penyelenggaraan makanan.
2)      Keterbatasan jumlah ahli gizi pada PT G.
3)      Kelalaian petugas RSUD A dalam hal pengecekan ulang dalam penerimaan formula khusus DM.
b.      Metodhe
1)      Kurangnya evaluasi mengenai perubahan siklus menu.
2)      Peyajian buah yang kurang bervariasi oleh PT G.
3)      Perubahan siklus menu yang terlalu lama oleh PT G.
4)      Kurangnya edukasi dan informasi yang diberikan ahli gizi RSUD A ke pasien DM ruang VIP.
c.       Machine
1)      Buku pemesanan
2)      Buku rekap
3)      Buku kumpulan referensi menu pengembangan resep terbaru
2.      Prioritas Masalah
Kriteria
Masalah
Importance
(I)
Resource
(R)
Threats
(T)
Total
a.  Daya terima pasien kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama pada makan malam.
5
5
5
15
b.  Perubahan siklus menu yang terlalu sedikit ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali perubahan siklus menu.
5
5
5
15
c.  Adanya kririk dari pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
5
5
5
15
d. Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
5
4
5
14

Setiapmasalahdiberikannilai 1-5 yang artinya;
Nilai5  :Sangatpenting
Nilai4  :Penting
Nilai3  :Cukup
Nilai2  :Kurangpenting
Nilai1  :Sangatkurangpenting



B.     STRATEGI DAN PERENCANAAN PEMECAHAN MASALAH
1.    Analisis SWOT
 

Internal













Eksternal
Stregth
a. Mempunyai Instalasi Gizi sendiri.
b. Menggunakan sistem out-sourching dalam penyelenggaraan menu.
c. RSUD A berhak mengevaluasi jika terjadi kesalahan.
d.RSUD A berhak memutus kontrak kerjasama dengan PT G jika terjadi kesalahan berulang.
e. RSUD A berhak menentukan menu atau mengkoordinasikan jenis menu.
f.  RSUD A dapat mengusulkan lama siklus menu.

Weekness
a.     Kelalaian petugas RSUD A dalam pengecekan dalam penerimaan formula khusus DM.
b.    Kurangnya koordinasi pihak RSUD A dengan pihak PT G mengenai penyelenggaraan makanan.
c.     Kurangnya evaluasi terhadap pengecekan ulang formula khusus DM oleh petugas penerimaan makan di RSUD A.
d.    Tidak ada peraturan mengenai larangan membawa makanan dari luar RSUD A.
e.     Tidak ada pemeriksaan makanan untuk pasien.
Opportunity
a.  Siklus Menu 10 hari dengan tambahan menu 31.
b. Perubahan siklus menu.
S-O
a.    Ahli gizi Rumah Sakit dapat mengusulkan menu baru.
b.    Ahli gizi RSUD A dapat bekerjasama dengan PT G mengenai perbaikan menu.
c.    Melakukan evaluasi secara berkala mengenai perubahan siklus menu.
W-O
a.  Melakukan pengecekan ulang makanan oleh petugas penerimaan dan pendistribusian RSUD A sebelum didistribusikan kepada pasien DM ruang VIP RSUD A.
b.  Melakukan koordinasi lebih lanjut mengenai penyelenggaraan makanan.
c.  Melakukan evaluasi perubahan siklus menu terutama menu makan malam secara berkala dan bertahap.
Threat
a.  Jumlah ahli gizi pada PT G (satu orang).
b. Pasien mengkonsumsi makanan selain menu yang diberikan oleh RSUD A.
c.  Evaluasi terhadap terhadap menu yang diberikan.
d. Evaluasi terhadap perubahan siklus menu tidak dilakukan secara berkala.
S-T
a.    Melakukan evaluasi dan pengusulan menu baru oleh ahli gizi RSUD A.
b.    Pemberian edukasi dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A.
c.    Melakukan koordinasi yang runtut dan evaluasi bersama secara berkala mengenai siklus menu dan pemberian jenis menu.
W-T
a.    Peningkatan kualitas pelayanan daritim asuhan gizi RSUD A.
b.    Melakukan evaluasi kerja tim asuhan gizi RSUD A dengan pihak PT G secara rutin dan berkala.
c.    Menindaklanjuti keluhan pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A.
d.   Melakukan evaluasi perubahan siklus menu secara berkala dan bertahap.
e.    Menyusun jadwal evaluasi terhadap keluhan dari pasien.
f.     Menetapkan peraturan mengenai larangan mengkonsumsi makanan selain dari menu yang diberikan RSUD A.

2.    Penyusunan Strategi dan Perencanaan Masalah
a.       Masalah           :
1)      Daya terima pasien kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama pada makan malam.
Strategi            :
1)        Melakukan evaluasi perubahan siklus menu terutama menu makan malam secara berkala dan bertahap.
2)        Mengadakan evaluasi tentang sisa makanan pasien melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin dan berkala.
3)        Mengevaluasi sisa makanan secara berkala.
4)        Mengevaluasi daya terima pasien terhadap menu yang telah disajikan.
5)        Menetapkan peraturan mengenai larangan mengkonsumsi makanan selain dari menu yang diberikan RSUD A.
6)        Pemberian edukasi dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A .
Tujuan            :
1)        Mengurangi persentase sisa makanan dan meningkatkan daya terima pasien DM, serta meningkatkan variasi menu makanan.
b.      Masalah           :
1)        Perubahan siklus menu yang terlalu sedikit ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali perubahan siklus menu.
Strategi            :
1)        Melakukan evaluasi mengenai perubahan siklus menu melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin dan bertahap.
2)        Membuat jadwal evaluasi mengenai perubahan siklus menu.
Tujuan             :
1)        Agar perubahan siklus menu dapat dilakukan 6 bulan sekali.
c.       Masalah           :
1)        Adanya kririk dari pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
Strategi            :
1)        Melakukan pengecekan ulang formula khusus DM oleh petugas penerimaan dan pendistribusian RSUD A sebelum didistribusikan kepada pasien DM ruang VIP RSUD A.
2)        Melakukan koordinasi yang runtut dan evaluasi bersama secara berkala mengenai frekuensi pemberian formula khusus DM.
3)        Menindaklanjuti keluhan pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A.
4)        Peningkatan kualitas pelayanan dari tim asuhan gizi RSUD A.
Tujuan             :
1)        Agar pasien mendapatkan kenyamanan dalam pelayanan dari RSUD A dan tidak terjadi kesalahan dalam pemberian frekuensi pemberian formula khusus DM.

d.      Masalah           :
1)        Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
Strategi            :
1)        Ahli gizi RSUD A dapat mengusulkan menu baru.
2)        Mengadakan evaluasi melalui hasil angket secara rutin dan berkala.
3)        Melakukan evaluasi dan pengusulan menu baru oleh ahli gizi RSUD A.
4)        Pemberian edukasi dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A.
5)        Menindaklanjuti keluhan pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A.
6)        Ahli gizi RSUD A dapat bekerjasama dengan PT G mengenai perbaikan menu.
Tujuan             : Meningkatkan variasi buah dan penyajiannya.


C.    PEMBAHASAN
1.      Penyelenggaraan Makanan
Pelayanan gizi adalah rangkaian kegiatan terapi gizi medis yang dilakukan di institusi kesehatan (rumah sakit), puskesmas dan institusi kesehatan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi klien/pasien. Pelayanan gizi merupakan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam rangka meningkatkan kesehatan klien/pasien (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Tim Asuhan Gizi adalah sekelompok petugas rumah sakit yang terkait dengan pelayanan gizi terdiri dari dokter/dokter spesialis, nutritionist/dietisien, dan perawat dari setiap unit pelayanan, bertugas menyelenggarakan asuhan gizi (nutrition care) untuk mencapai pelayanan paripurna yang bermutu (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Tim Asuhan Gizi adalah sekelompok petugas rumah sakit yang terkait dengan pelayanan gizi terdiri dari dokter/dokter spesialis, nutritionist/dietisien, dan perawat dari setiap unit pelayanan, bertugas menyelenggarakan asuhan gizi (nutrition care) untuk mencapai pelayanan paripurna yang bermutu (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Penyelenggaraan makanan merupakan salah satu kegiatan pokok pelayanan gizi. Kegiatan ini akan membantu upaya untuk penyembuhan dan pemulihan pasien. Proses penyembuhan pasien dapat dibantu dengan adanya makanan yang memenuhi syarat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas (Almatsier, 2006).
Pelayanan gizi Rumah Sakit adalah kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat rumah sakit baik rawat inap maupun rawat jalan, untuk keperluan metabolisme tubuh, peningkatan kesehatan, maupun mengoreksi kelainan metabolisme, dalam rangka upaya preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Ruang lingkup kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit dibagi atas empat kegiatan pokok yaitu :1) Asuhan gizi pasien rawat jalan 2) Asuhan gizi pasien rawat inap 3) Penyelenggaraan makanan 4) Penelitian dan pengembangan gizi (Depkes, 2003). Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) merupakan pelayanan yang diberikan di rumah sakit bagi penderita rawat jalan dan penderita rawat inap, untuk memperoleh makanan yang sesuai guna mencapai syarat gizi yang maksimal. Bentuk pelayanan gizi di rumah sakit tergantung pada tipe rumah sakit dan macam pelayanan spesialistik yang diberikan di rumah sakit tersebut (Moehyi, 1995). Bentuk pelayanan gizi yang paling umum terdapat di rumah sakit adalah penyelenggaraan makanan bagi penderita yang dirawat di ruang rawat inap di rumah sakit.
Tujuan umum Pelayanan Gizi Rumah Sakit yaitu terciptanya sistem pelayanan gizi di RS dgn memperhatikan berbagai aspek gizi dan penyakit serta merupakan bagian dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan gizi di RS (Titik, 2013).
a.       Bentuk Penyelenggaraan Makanan di Rumah Sakit
1)        Penyelenggaraan makanan sistem swakelola
Jika penyelenggaraan makanan dilakukan dengan sistem swakelola maka instalasi atau unit pelayanan gizi bertanggung jawab untuk melaksanakan semua kegiatan penyelenggaraan makanan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
2)        Penyelenggaraan makanan sistem Out-sourcing
Sistem out-sourcing yaitu penyelenggaraan makanan dengan memanfaatkan perusahaan jasaboga atau catering. Sistem out-sourcing dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu semi out-sourcing dan full out-sourcing (Depkes, 2006).
b.      Mekanisme Kerja Penyelenggaraan Makanan
1)        Pengadaan/Pembelian Bahan Makanan
Pembelian bahan makanan merupakan salah satu kegiatan pengadaan dalam upaya memenuhi kebutuhan bahan makanan. Kegiatan pengadaan bahan makanan perlu mendapat perhatian khusus dari pengelola karena bahan makanan merupakan faktor penentu kualitas makanan yang akan dihasilkan (Depkes, 1990).

2)        Perencanaan Menu
Perencanaan menu adalah suatu kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi selera konsumen/pasien dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang. Perencanaan menu merupakan proses bertahap terdiri dari apa yang akan disajikan dan kapan makanan tersebut disajikan. Tujuan perencanaan menu adalah tersedianya siklus menu sesuai dengan pedoman menurut klasifikasi pelayanan yang ada di rumah sakit (Depkes, 2003).
Perencanaan menu akan baik hasilnya bila disusun oleh sekelompok orang (panitia kerja) yang terdiri dari orang-orang yang banyak kaitannya dalam penyelenggaraan makanan (Depkes, 1991).
3)        Perhitungan Kebutuhan Bahan Makanan
Perhitungan kebutuhan bahan adalah kegiatan penyusuanan kebutuhan makanan yang diperlukan untuk pengabdian bahan makanan. Yang bertujuan tercapainya usulan anggaran dan kebutuhan bahan makanan untuk pasien dalam satu tahun anggaran (Depkes, 2006).
4)        Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan
Pemesanan adalah penyusunan permintaan (order) bahan makan berdasarkan menu atau pedoman menu dan rata-rata jumlah konsumen atau pasien yang dilayani. Yang bertujuan agar tersedianya daftar pesanan bahan makanan sesuai standar atau spesifikasi yang ditetapkan (Depkes, 2006).
5)        Penerimaan, Penyimpanan dan Penyaluran Bahan Makanan
Penerimaan bahan makanan merupakan suatu kegiatan yang meliputi memeriksa, meneliti, mencatat dan melaporkan macam, kualitas dan kuantitas bahan makanan yang diterima sesuai dengan pesanan serta spesifikasi yang telah ditetapkan (Depkes, 2003). Menurut Moehyi (1992) dalam penerimaan hendaknya perlu diperhatikan jumlah, jenis, ukuran, kualitas bahan dan batas
kadaluarsanya.
     Penyimpanan bahan makanan adalah suatu tatacara menata, menyimpan, memelihara keamanan bahan makanan kering dan basah baik kualitas maupun kuantitas di gudang bahan makanan kering dan basah serta pencatatan dan pelaporannya (Depkes 2003). Menurut Tarwotjo (1983) penyimpanan bahan makanan adalah suatu kegiatan yang menyangkut pemasukan bahan makanan, penyimpanan serta penyaluran bahan makanan ke bagian persiapan dan pengolahan. Dalam penyimpanan bahan makanan perlu diperhatikan beberapa hal antara lain :
1.    Bahan-bahan yang cepat mengalami proses pembusukan, tengik, kekeringan.
2.    Bahan yang dapat disimpan beberapa jam, beberapa hari dan beberapa bulan.
3.    Bagaimana cara pengaturannya dalam ruang penyimpanan bahan makanan.
Penyaluran bahan makanan siap pakai dengan kualitatif dan kuantitas yang tepat sesuai dengan pesanan. Sehingga tersedianya bahan makanan siap pakai dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dengan pesanan (Depkes, 2006).
6)        Persiapan Bahan Makanan
Persiapan bahan makanan adalah serangkaian kegiatan dalam penanganan bahan makanan, yaitu meliputi berbagai proses antara lain membersihkan, memotong, mengupas, mengocok, merendam, dsb (Depkes, 2006).
7)        Pengolahan Bahan Makanan
Pengolahan bahan makanan merupakan satu kegiatan untuk mengubah (memasak) bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Menurut Tarwotjo dan Soejoeti (1983) pengolahan makanan adalah suatu proses kegiatan terhadap bahan makanan, mulai dari makanan mentah atau makanan setengah jadi menjadi makanan siap dimakan. Dalam pengolahan makanan melalui proses yang saling berkaitan yaitu persiapan bahan makanan, pemasakan dan penyaluran makanan.
Berdasarkan pendapat Mahmud dan Krisdinamurtirin (1980) pegolahan bahan makanan bertujuan untuk mempertahankan nilai gizi, meningkatkan nilai cerna, mempertahankan sifat warna, bau, rasa, keempukan dan penampakan makanan serta bebas dari organisme yang berbahaya bagi kesehatan.
8)        Pendistribusian Makanan
Pada umumnya ada dua cara distribusi makanan yang dilakukan di  rumah sakit, yaitu :
1.    Distribusi makanan yang dipusatkan (sentralisasi).
Makanan dibagikan pada masing-masing alat makan pasien (plato) di tempat penyelenggaraan makanan kemudian langsung didistribusikan ke pasien.
2.    Distribusi makanan tidak dipusatkan (Desentralisasi).
Makanan dibawa dalam jumlah banyak di wadah-wadah ke dapur ruang perawatan pasien, selanjutnya makanan tersebut diporsikan ke alat makan yang tersedia kemudian didistribusikan ke pasien.

2.      Analisis masalah penyelenggaraan makanan yang terjadi pada RSUD A adalah sebagai berikut.
2.a. Daya terima pasien kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama pada makan malam
Di RSUD A mengalami masalah pada daya terima pasien yang kurang di tunjukan dari sisa makanan sebanyak 30% pada setiap pemberian menu ganjil terutama pada malam hari. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti pengulangan bahan dan cara memasak yang sama, serta dapat dikarenakan dari cara penyajiannya. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk masalah tersebut, antara lain:
1)      Melakukan evaluasi perubahan siklus menu terutama menu makan malam secara berkala dan bertahap.
2)      Mengadakan evaluasi tentang sisa makanan pasien melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin dan berkala.
3)      Mengevaluasi sisa makanan secara berkala.
4)      Mengevaluasi daya terima pasien terhadap menu yang telah disajikan.
5)      Menetapkan peraturan mengenai larangan mengkonsumsi makanan selain dari menu yang diberikan RSUD A.
6)      Pemberian edukasi dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A .
Strategi diatas bertujuan mengurangi persentase sisa makanan dan meningkatkan daya terima pasien DM, serta meningkatkan variasi menu makanan untuk mencapai target yaitu Sisa makanan ≤ 20% , dalam hal ini harus tetap diadakan evaluasi kembali tentang pencapaian dari target kegiatan yang suda terlaksanakan.
2.b Perubahan siklus menu yang terlalu sedikit ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali perubahan siklus menu.
Menurut Uripi (2007), menu merupakan susunan dari beberapa hidangan yang disajikan untuk seseorang atau sekelompok orang pada waktu makan pagi, makan siang, dan makan malam serta makan selingan. Dalam pemilihan menu ada beberapa hal yang perlu dihindari, diantaranya :
1)    Pengulangan bahan dasar yang sama
2)    Pengulangan cara masak yang sama
3)    Pengulangan rasa, bentuk, dan kekentalan yang sama.
Menurut Mukrie (1996) siklus menu yaitu 1 set menu sehari yang disusun selama jangka waktu teretntu (5, 7, atau 10 hari) yang dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu (3, 6, 12 bulan). Jangka waktu atau siklus menu yang lebih lama akan lebih baik karena akan mencegah terjadinya pengulangan menu yang terlalu dekat. Dalam pembuatan siklus menu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu :
1.      Menghindari pengulangan seperti :
a.       Bahan pokok, contoh : perkedel kentang, sup kentang.
b.      Warna, contoh : telur bumbu semur, tempe bacem sama-sama warna           
Coklat
c.       Bumbu, contoh : gulai nangka muda, gulai daging
2.      Rasa hidangan, seperti manis, asam, gurih, asin
3.      Teknik pengolahan yang bervariasi, seperti dibakar, direbus, digoreng, atau  dikukus.
4.      Nilai gizi  yang harus memenuhi dan sesuai standar kebutuhan gizi.
5.      Dana yang tersedia
6.      Jumlah dan jenis konsumen ( termasuk kebiasaan makan dan kesukaan)
7.      Memperhatikan jumlah hari libur di bulan tsb
8.      Standar resep, porsi, dan bumbu
9.      Spesifikasi bahan makanan
10.  Perhatikan tanggal 31 atau 29 selama berlakunya siklus
11.  Macam dan jumlah pegawai
12.  Musim dan keadaan pasar
13.  Pealatan dan perlengkapan yang tersedia
Hasil  penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan makanan menggunakan siklus menu 10 hari dengan penambahan menu ke 31, artinya menu tersebut hanya untuk 10 hari makan ( hari ke 1 sampai hari ke 10) dan untuk selanjutnya hari ke 11 menu itu kembali lagi ke menu awal ( hari ke 1) dan untuk menu ke 31 hanya muncul pada tanggal 31 saja.  Selain itu, setiap 6 bulan  sekali diadakan evaluasi susunan siklus menu. Dari  hasil evaluasi tersebut, maka susunan menu yang sudah digunakan dapat digunakan kembali atau bisa juga  susunan tersebut ditukar dengan susunan menu lain atau dengan mengkombinasikan menu (Sutardji, 2007).
Dalam hal ini untuk mengurangi kesalahan terutama dalam perencanaan siklus menu atau penyusunan siklus menu bisa dilakukan dengan melakukan strategi sebagai berikut:
1)      Melakukan evaluasi mengenai perubahan siklus menu melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin dan bertahap.
2)      Membuat jadwal evaluasi mengenai perubahan siklus menu.
Strategi diatas bertujuan agar perubahan siklus menu dapat dilakukan 6 bulan sekali sesuai dengan teori yang ada. Siklus menu yang digunakan oleh RSUD A menggunakan siklus menu 10 hari dengan penambahan menu ke 31.Metode ini sudah sesuai dengan teori yang ada.Untuk pasien kelas VIP dapat memilih makanan sendiri tetapi disesuaikan dengan kondisi pasien.
Dalam penyusunan siklus menu perlu memperhatikan spesifikasi bahan makanan dan teknik pengolahannya sehingga dalam satu putaran siklus menu tidak terjadi pengulangan menu dan tidak menimbulkan rasa bosan (Depkes, 2006).Di RSUD A selama 3 tahun terakhir ini hanya melakukan evaluasi susunan siklus menu sebanyak 3 kali saja.Menurut teori (Sutardji, 2007) setidaknya setiap 6 bulan sekali diadakan evaluasi susunan siklus menu. Oleh karena  itu pihak RSUD A mengusulkan kepada PT G untuk melakukan evaluasi secara berkala mengenai siklus menu yang diterapkan. Ini  bertujuan untuk mengetahui keefektifan siklus menu yang sedang diterapkan. Selain itu pihak RSUD A juga mengusulkan untuk melakukan evaluasi terhadap perubahaan siklus menu setiap 6 bulan sekali sesuai dengan teori yang ada yang bertujuan untuk  mengoptimalkan bahan makanan musiman dan untuk mengurangi persentase sisa makanan yang terbuang menggunakan metode comstock.
Angket yang disebarkan berisi pertanyaan tentang tingkat kesukaan dan kepuasan pasien terhadap menu yang telah disajikan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat ketidaksukaan terhadap menu ganjil pada malam hari yang menyebabkan persentase sisa makanan sebesar 30%. Setelah itu melakukan evaluasi berdasarkan hasil angket. Kemudian berdasarkan hasil angket tersebut, ahli gizi RSUD A mengusulkan menu baru
Menyusun jadwal evaluasi tentang sisa makanan yang berhubungan  siklus menu kepada PT G. RSUD A menyusun jadwal evaluasi terhadap sisa makanan yang dapat dilakukan 3 bulan sekali. Jika dalam evaluasi tersebut sisa makanan ≥ 30% maka pihak RSUD A berhak mengusulkan perubahan siklus menu kepada PT G. Agar PT G dapat menindak lanjuti usulan dari RSUD A sesegera mungkin.

     2.c. Adanya kritrik dari pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
                        Permasalahan yang terjadi di RSUD A yaitu adanya kritikan dari pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali. Dimana Kepatuhan pada pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pelayanan diebetes, terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Berdasarkan rekomendasi The American Diabetes Association (ADA) 2003 Terapi gizi medis memerlukan pendekatan tim yang terdiri dari dokter, dietisien, perawat dan petugas kesehatan lain serta pasien itu sendiri untuk meningkatkan kemampuan setiap pasien dalam mencapai kontrol metabolik yang baik. Hal ini menunjukan pemberian diet pada pasien DM harus di perhatikan dengan baik, terutama dalam hal ini dalam pemberian formula khusus DM pemberiannya disesuaikan dengan keadaan dan jenis diet yang akan dijalani sesuai keadaan dan tingkat keparahan pasien.
Hal ini di lihat dari definisi, standar porsi adalah jumlah makanan yang harus disediakan berdasarkan ketetapan rumah sakit menurut kasus contoh sesuai dengan perolehan jenis diet, diklasifikasikan menjadi diet DM I (1100 Kal), DM II (1300 Kal), DM III (1500 Kal), diet DM IV (1700 Kal), DM V (1900 Kal), DM VI (2100 Kal), DM VII (2300 Kal), DM VIII (2500 Kal), yang mengacu pada RS. Cipto Mangunkusumo (Almatsier, 2004).
Namun kesalahan ini bisa terjadi dikarenakan beberapa faktor yaitu:
1.      Koordinasi yang kurang antara ahli gizi rumah sakit dengan ahli gizi PT.G mengenai pemberian diet atau diet yang akan di jalani oleh pasien sesuai keadaannya.
Kurangnya koordinasi antara pihak ahli gizi RSUD A dengan Ahli gizi penyelenggara makanan di PT.G sehingga berdampak pada pelayanan yang kurang baik di lihat dari  berbagai masalah yang timbul pada pasien seperti adanya keluhan atau kritik dari pasien terhadap menu  formula khusus yang di sajikan.
2.      Kurang teliti karena kurang evaluasi dari pihak RSUD A maupun dari pihak PT.G mengenai diet khusus DM.
Pelayanan gizi rumah sakit (PGRS) adalah pelayanan yang diberikan di rumah sakit bagi pasien rawat jalan dan pasien rawat inap, untuk memilih/memperoleh makanan yang sesuai guna mencapai syarat gizi yang maksimal (Depkes RI, 1990). Kegiatan pelayanan gizi rawat inap merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi pengkajian status gizi, penentuan kebutuhan gizi, penentuan macam/jenis diet sesuai dengan penyakit dan cara pemberian makanan, konseling gizi, serta evaluasi dan monitoring pelayanan gizi (Depkes, 2006a).
Hal tersebut menunjukan ketelitian dan evaluasi dalam pelayanan diet pada pasien harus di perhatikan terutama pasien khusus atau ruangan khusus. Untuk mewujudkan hasil yang maksimal maka perlu dilakukan dengan strategi meningkatkan ketelitian dan melakukan evaluasi setiap pemberian menu dengan tujuan mengurangi kesalahan diet pada pasien terutama diet khusus dan ruang khusus. Untuk mengurangi kesalahan diatas target yang harus di lakukan Melakukan evaluasi kerja tim asuhan giziR SUD A dengan ahli gizi PT G.
3.      Kesalahan pelabelan, pendistribusian,pelaporan, pemesanan, dan perekapan di RSUD A maupun di PT.G
Menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp mengatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya antara komunikator dan komunikan dalam setiap komunikasi.Kesalahan ini bisa saja timbul karena komunikasi yang kurang antara petugas atau koordinator pemesanan dari pihak rumah sakit dengan petugas perekapan dari pihak PT.G sehingga pelaporan dan pelabelan bisa keliru. Maka dari hal ini komunikasi sangat penting untuk mewujudkan ketepatan dalam pelabelan maupun pendistribusian dalam penyelenggaraan pelayanan makanan terutama penyelenggaraan pelayanan gizi rumah sakit
Selain komunikasi cara pendistribusian yang di gunakan juga harus tepat dimana dalam penyelengaraan makanan ada dua metode yaitu sentral dan disentral. Metode Sentaral yaitu sistem  yang dimana makanan langsung di porsikan di dapur pusat kemudian di distribusikan, sedangkan Desentral adalah sistem pendistribusian dimana kegiatan pmorsian dan produksi di lakukan di dua tempat yang berbeda yaitu makanan di produksi dalam jumlah besar di dapur instalasi gizi lalu di bawa ke ruangan atau dapur ruangan kemudiandi porsikan (Depkes,2006). Namun karena RSUD A menggunakan jasa ketring dari PT.G maka pemorsian langsung dari pihak PT.G maka dalam hal ini perlu komunikasi dan koordinasi yang efektif dengan tujuan untuk mengurangi  kesalahan pemberian label untuk diet pasien.
Untuk menghindari  dan mengurangi kesalahan-kesalahan seperti yang sudah terjadi maka strategi yang paling utama di lakukan adalah melakukan koordinasi baik dari pihak ahli gizi rumah sakit maupun pihak ahli gizi dari PT.G, melakukan pengecekan ulang baik di PT.G sebelum di antarkan ke  rumah sakit maupun pengecekan ulang oleh pihak RSUD A sebelum di distribusikan ke pasien, dan melakukan pelabelan yang lebih baik dengan cara mmemberitahukan atau mengkoordinasikan kepada petugas pemorsian di pihak PT.G sesuai label yang di minta oleh pihak  RSUD A.
Untuk mengurangi terjadinya kesalahan pemberian diet dan menghindari kritikan dari pasien teritama dalam pemberian formula khusus DM maka bisa di lakukan dengan beberapa strategi sebagai berikut:
1)  Melakukan pengecekan ulang formula khusus DM oleh petugas penerimaan dan pendistribusian RSUD A sebelum didistribusikan kepada pasien DM ruang VIP RSUD A.
2)  Melakukan koordinasi yang runtut dan evaluasi bersama secara berkala mengenai frekuensi pemberian formula khusus DM. Yaitu dengan mengadakan evaluasi satu minggu sekali setiap kali pemberian formula khusus DM untukmenguarangi kesalahan diet.
3)  Menindaklanjuti keluhan pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A dengan melakukan perbaikan pelayanan khususnya yang di kritkan pasien yaitu pemberian formula khusus DM harus disesuaikan atau diberikan sesuai kebutuhan pasien.
4)  Peningkatan kualitas pelayanan dari tim asuhan gizi RSUD A, karena pelayanan yang baik akan membuat pasien merasa nyaman.
Untuk mengetahui keberhasilan dari strategi yang dilaksanakan maka harus diadakan monitoring dengan  melakukan pengontrolan pada setiap pengecekan formula khusus DM yang diterima untuk mencapai target sesuai target pencapaian yaitu formula khusus DM akan diberikan 6x sehari, maka untuk keberhasilan dari target tersebut diadakan evaluasi lebih lanjut pemberian yang sudah dicapai.
2.d. Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang
bervariatif
 Perusahaan catering diet PT G memiliki permasalahan pada pemberian buah yang kurang variatif  untuk pasien DM, buah yang diberikan  hanya sebatas melon, jeruk, papaya dan tidak pernah mendapatkan buah yang lain sehingga membuat pasien merasa bosan. Hal ini diperkirakan perusahaan catering PT G tidak memberikan pelayanan yang baik.
Dari masalah tersebut kami mengidentifiksi masalah yang ada, antara lain:
a)   Definisi DM
            Diabetes mellitus atau penyakit gula atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Diabetes melitus yang terkait keadaan atau gejala tertentu seperti penyakit pankreas, penyakit hormonal, obat-obatan / bahan kimia, kelainan insulin / reseptornya, sindrom genetik dll.
b)   Faktor Penyebab Diabetes melittus
Umumnya diabetes melittus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil atau sebagian besar dari sel-sel betha dari pulau-pulau Langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin, akibatnya terjadi kekurangan insulin.Disamping itu diabetes melittus juga dapat terjadi karena gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukan glukosa kedalam sel. Gangguan itu dapat terjadi karena kegemukan atau sebab lain yang belum diketahui
Penderita diabetes harus mengontrol makanan yang mereka konsumsi. Tidak semua buah dan sayuran dapat mereka konsumsi setiap hari. Ada beberapa makanan yang harus dihindari, meski makanan itu tergolong sehat. Berikut adalah buah-buahan yang baik dikonsumsi penderita diabetes karena dapat mengatur kadar gula darah dalam tubuh, yaitu:
1.      Ceri
Ceri memiliki tingkat indeks glikemik 20 dan kadang-kadang kurang dari itu karena bisa bervariasi. Ini adalah buah yang sehat untuk penderita diabetes untuk mengatur kadar gula darah.
2.      Jambu biji 
Buah jambu mengontrol diabetes dan juga baik untuk sembelit. Jambu biji tinggi vitamin A, Vitamin C dan serat. Namun, buah ini memiliki GI yang cukup rendah.
3.      Apel
Apel  memiliki kandungan tinggi serat, vitamin C dan juga antioksidan. Apel juga mengandung pektin yang ditemukan pada kulit dan pulpa. Pektin membantu untuk detoksifikasi tubuh, menghilangkan produk limbah yang berbahaya. Pektin juga mengandung asam galacturonic yang telah terbukti untuk menurunkan kebutuhan insulin penderita diabetes hingga 35%. Buah Apel memiliki  indeks glikemik yang rendah berada pada peringkat 38.
4.      Jeruk
Jeruk memiliki peringkat 48 pada indeks glikemik. Serat yang tinggi dan kandungan vitamin C dari jeruk membantu mengontrol kadar gula darah. Jeruk mengandung naringenin yang membantu menyeimbangkan kadar insulin dan glukosa dalam darah. Jeruk yang rendah lemak dapat membantu anda yang menurunkan berat badan. Kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko untuk diabetes.
5.   Pir
Pir mengandung serat, vitamin A, B1, B2, C, E, asam folat, niasin, tembaga, fosfor, kalium, kalsium, besi dan magnesium. Pir memiliki peringkat 38 pada indeks glikemik. Pir Cina memiliki sifat yang paling baik, tetapi semua pir membantu penderita diabetes meningkatkan kadar gula darah. Pir membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan memiliki sifat antioksidan.
6.   Anggur
        Anggur rendah nilai glikemik indeks, yaitu hanya sebesar 25 sehingga buah ini bagus untuk penderita diabetes.
Tabel : penggolongan nilai Indeks glikemik
Rentang nilai GI
Golongan
Contoh
< 55
Rendah
Apel, pisang, mangga, jeruk, ceriping, jagung, bayam, kubis, brokoli, madu.
56 - 69
Sedang
Meloes, buah, kiwi, pepaya, es krim reguler, gula meja/ sukrosa
>70
Tinggi
Labu , kentang, semangka, beras wangi/ jamine rice
                             Sumber: puspitasari I

            Menurut Uripi (2007), menu adalah susunan hidangan, yang terdiri dari satu atau beberapa macam hidangan yang disajikan untuk seseorang atau sekelompok orang pada waktu makan pagi, makan siang, makan malam atau makan selingan. Sedangkan menurut Moehyi (1992), kata “menu” berarti hidangan makanan yang disajikan pada suatu acara makan, baik makan siang maupun makan malam. Menu dapat disusun untuk lebih dari satukali acara makan, misalnya untuk satu hari yang terdiri dari makan pagi, makan siang, makan malam, serta makan selingan.menu dapat disusun untuk jangka waktu yang lama, misalnya selama tujuh atau sepuluh hari. 
Penyelenggaraan makanan Rumah sakit A diselenggarakan secara out-sourching yang bekerja sama dengan ketering dari PT G. Rumah sakit A mengadakan evaluasi yang berhubungan dengan keluhan yang disampaikan oleh pasien DM ruang VIP mengenai buah buahan yang diberikan untuk pasien DM hanya sebatas melon, jeruk, papaya dan tidak pernah mendapatkan buah yang lain.
Masalah yang terjadi pada RSUD A adalah buah yang diterima pasien kurang bervariatif. Hal ini bisa disebabkan dari cara pengolahan buah yang kurang bervariasi dan jenis buah yang hanya sebatas melon, jeruk, pepaya.Sehingga membuat pasien bosan, kemudian mengeluh dan memberikan kritik kepada pihak rumah sakit.
Siklus menu yang diterapkan oleh PT G adalah, siklus menu 10 hari dengan tambahan menu 31. Misalkan hari senin diberikan buah melon, menurut perhitungan hari pasti akan mendapatkan buah melon  lagi sehingga monoton dan mudah ditebak pasien. Apalagi jika dalam seminggu atau 10 hari dalam siklus menu mendapatkan buah melon 3x maka akan terasa lebih bosan apalagi dalam jangka waktu yang lama. Masalah ini dapat diselesaikan dengan cara pengolahan yang berbeda meskipun dengan jenis buah yang sama. Pengolahan menu yang lebih bervariasi seperti pengolahan buah tidak hanya di berikan secara utuh atau dipotong-potong, tetapi buah juga bisa di olah menjadi olahan yang lebih menarik seperti  puding buah dan jus buah tetapi dengan syarat gula yang diberikan yaitu jenis gula khusus untuk penyakit DM. Sehingga pasien tidak akan merasa bosan lagi karena walaupun buah yang disajikan itu sama dengan buah yang kemarin tetapi cara pengolahannya yang berbeda.
Untuk pasien VIP pasien dapat memilih makanan sendiri tetapi disesuaikan dengan kondisi pasien serta dalam penyusunan siklus menu harus memperhatikan menu dan teknik pengolahannya sehingga meskipun mendapatkan menu yang sama misalkan buah melon selama seminggu atau 10 hari mendapatkan 3x tapi dengan tehnik pengolahannya berbeda tidak menimbulkan rasa bosan (Depkes,2006).
Perekapan ulang jenis bahan makanan lebih detail oleh pihak RSUD A dan pihak PT G supaya tidak terjadi pengulangan pemberian  jenis bahan makanan seperti dalam pemberian buah dan cara pengolahannya secara terus menerus, agar buah yang diberikan ke pasien DM ruang VIP lebih bervariasi. Dengan cara mengontrol dan melakukan evaluasi antara pihak PT G dengan pihak RSUD A terhadap menu yang akan di berikan kepada pasien DM di ruang VIP , serta pengusulan menu baru oleh pihak RSUD A mengenai jenis buah dan cara pengolahan kepada pihak PT G melalui hasil metode angket yang sudah diterapkan oleh pihak RSUD A secara rutin dan berkala. Disamping itu juga pihak RSUD A memberikan edukasi dan informasi kepada pasien tentang menu yang baik untuk penderita DM.
Apabila inovasi pengolahan dan penyajian buah yang diberikan masih kurang disukai oleh pasien. Maka akan diadakan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor penyebab ketidak berhasilan. Namun, apabila pasien sudah merasa buah yang diberikan sudah dirasa baik dalam hal pengolahan dan jenisnya. Pihak tim asuhan gizi rumah sakit tetap akan melakukan evaluasi secara rutin dan berkala.



7)      KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan makanan RSUD A adalah
1.    Menu makanan kurang bervariasi ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama pada makan malam.
2.    Terjadi kesalahan dalam pemberian diet pada pasien DM ruang VIP yang ditunjukkan dari pemberian formula khusus DM hanya satu kali.
3.    Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
           
SARAN
1.      Melakukan evaluasi dan penyebaran angket untuk mengetahui tingkat kepuasan dan kesukaan pasien terhadap menu yang disajikan terutama pada menu ganjil.
2.      Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dari tim ahli gizi RS A dan ahli gizi PT G.
Melakukan kontrol dan pengecekan ulang pada penyelenggaraan makanan terutama pada pelabelan, pendistribusian, pelaporan, pemesanan, dan perekapan.
3.      Menindaklanjuti keluhan dari pasien dan melakukan evaluasi secara bertahap dan berkala.

Mengumpulkan referensi pengolahan buah dan jenis buah yang baik untuk penderita diabetes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar