KASUS 1
Kegiatanpenyelenggaraanmakanan
di RSUD A ruang VIP diselenggarakansecara outsourcing olehperusahaan catering
diet yaitu PT. G dengansatu orang ahligizi,
kerjasamatersebutsudahberlangsungselama 3 tahun. PT. G menerapkansiklus menu 10
haridengantambahan menu 31 danselamatigatahuntersebutsudahmelakukan 3 kali
perubahanpadasiklus menu.
SaatinipihakinstalasigiziRumahSakitsedangmengadakanevaluasimengenaipenyelenggaraanmakananoleh
PT. G dikarenakanselaluterdapatsisamakanan (30%) setiappemberian menu
ganjilterutamapadamakanmalam, selainitu menu untukpasien DM
mendapatkankritikdaripasienkarena formula khusus DM hanyadiberikansatu kali
danbuah yang diberikanuntukpasien DM hanyasebatas melon, jeruk, papaya,
dantidakpernahmendapatkanbuah yang lain.
Bantulah
RSUD A untukmenyelesaikanpermasalahannya !
- PERUMUSAN MASALAH
1.
Identifikasi
Masalah
1.1.Penilaian
Penilaian
yang dilakukan di RSUD Aadalah dengan menganalisa kegiatan penyelenggaraan makanan di instalasi gizi adalah sebagai berikut:
a.
Daya terima pasien
kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama
pada makan malam.
b.
Perubahan siklus
menu yang terlalu sedikit ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali
perubahan siklus menu.
c.
Adanya kritrik dari
pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
d.
Adanya kritik dari
pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
1.2.Perumusan Masalah
a.
Man
1)
Kurangnya koordinasi
antara ahli giziRSUD A dengan pihak PT G mengenai penyelenggaraan makanan.
2)
Keterbatasan jumlah
ahli gizi pada PT G.
3)
Kelalaian petugas
RSUD A dalam hal pengecekan ulang dalam penerimaan formula khusus DM.
b.
Metodhe
1)
Kurangnya evaluasi mengenai
perubahan siklus menu.
2)
Peyajian buah yang
kurang bervariasi oleh PT G.
3)
Perubahan siklus
menu yang terlalu lama oleh PT G.
4)
Kurangnya edukasi
dan informasi yang diberikan ahli gizi RSUD A ke pasien DM ruang VIP.
c.
Machine
1)
Buku pemesanan
2)
Buku rekap
3)
Buku kumpulan
referensi menu pengembangan resep terbaru
2.
Prioritas Masalah
|
Kriteria
Masalah
|
Importance
(I)
|
Resource
(R)
|
Threats
(T)
|
Total
|
|
a. Daya terima pasien kurang ditunjukkan dari sisa makanan
30% setiap pemberian menu ganjil terutama pada makan malam.
|
5
|
5
|
5
|
15
|
|
b. Perubahan siklus menu yang terlalu sedikit ditunjukkan
selama tiga tahun melakukan 3 kali perubahan siklus menu.
|
5
|
5
|
5
|
15
|
|
c. Adanya kririk dari pasien DM dalam hal frekuensi
pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
|
5
|
5
|
5
|
15
|
|
d. Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai
pemberian buah yang kurang bervariatif.
|
5
|
4
|
5
|
14
|
Setiapmasalahdiberikannilai
1-5 yang artinya;
Nilai5
:Sangatpenting
Nilai4
:Penting
Nilai3
:Cukup
Nilai2
:Kurangpenting
Nilai1
:Sangatkurangpenting
B.
STRATEGI DAN PERENCANAAN PEMECAHAN MASALAH
1.
Analisis SWOT
Internal
Eksternal
|
Stregth
a. Mempunyai Instalasi Gizi sendiri.
b. Menggunakan sistem out-sourching dalam penyelenggaraan
menu.
c. RSUD A berhak mengevaluasi jika terjadi kesalahan.
d.RSUD A berhak memutus kontrak kerjasama dengan PT G
jika terjadi kesalahan berulang.
e. RSUD A berhak menentukan menu atau mengkoordinasikan
jenis menu.
f. RSUD A dapat mengusulkan lama siklus menu.
|
Weekness
a. Kelalaian petugas RSUD A dalam pengecekan dalam
penerimaan formula khusus DM.
b. Kurangnya koordinasi pihak RSUD A dengan pihak PT G
mengenai penyelenggaraan makanan.
c. Kurangnya evaluasi terhadap pengecekan ulang formula
khusus DM oleh petugas penerimaan makan di RSUD A.
d. Tidak ada peraturan mengenai larangan membawa makanan
dari luar RSUD A.
e. Tidak ada pemeriksaan makanan untuk pasien.
|
|
Opportunity
a. Siklus Menu 10 hari dengan tambahan menu 31.
b. Perubahan siklus menu.
|
S-O
a.
Ahli gizi
Rumah Sakit dapat mengusulkan menu baru.
b.
Ahli gizi
RSUD A dapat bekerjasama dengan PT G mengenai perbaikan menu.
c.
Melakukan
evaluasi secara berkala mengenai perubahan siklus menu.
|
W-O
a. Melakukan pengecekan ulang makanan oleh petugas
penerimaan dan pendistribusian RSUD A sebelum didistribusikan kepada pasien
DM ruang VIP RSUD A.
b. Melakukan koordinasi lebih lanjut mengenai penyelenggaraan
makanan.
c. Melakukan evaluasi perubahan siklus menu terutama menu
makan malam secara berkala dan bertahap.
|
|
Threat
a. Jumlah ahli gizi pada PT G (satu orang).
b. Pasien mengkonsumsi makanan selain menu yang diberikan oleh
RSUD A.
c. Evaluasi terhadap terhadap menu yang diberikan.
d. Evaluasi terhadap perubahan siklus menu tidak dilakukan
secara berkala.
|
S-T
a.
Melakukan
evaluasi dan pengusulan menu baru oleh ahli gizi RSUD A.
b.
Pemberian
edukasi dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A.
c.
Melakukan
koordinasi yang runtut dan evaluasi bersama secara berkala mengenai siklus
menu dan pemberian jenis menu.
|
W-T
a.
Peningkatan
kualitas pelayanan daritim asuhan gizi RSUD A.
b.
Melakukan
evaluasi kerja tim asuhan gizi RSUD A dengan pihak PT G secara rutin dan
berkala.
c.
Menindaklanjuti
keluhan pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A.
d.
Melakukan
evaluasi perubahan siklus menu secara berkala dan bertahap.
e.
Menyusun
jadwal evaluasi terhadap keluhan dari pasien.
f.
Menetapkan
peraturan mengenai larangan mengkonsumsi makanan selain dari menu yang
diberikan RSUD A.
|
2.
Penyusunan Strategi
dan Perencanaan Masalah
a.
Masalah :
1)
Daya terima pasien
kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil terutama
pada makan malam.
Strategi :
1)
Melakukan evaluasi
perubahan siklus menu terutama menu makan malam secara berkala dan bertahap.
2)
Mengadakan evaluasi
tentang sisa makanan pasien melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin
dan berkala.
3)
Mengevaluasi sisa
makanan secara berkala.
4)
Mengevaluasi daya
terima pasien terhadap menu yang telah disajikan.
5)
Menetapkan
peraturan mengenai larangan mengkonsumsi makanan selain dari menu yang
diberikan RSUD A.
6)
Pemberian edukasi
dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A .
Tujuan :
1)
Mengurangi
persentase sisa makanan dan meningkatkan daya terima pasien DM, serta
meningkatkan variasi menu makanan.
b.
Masalah :
1)
Perubahan siklus
menu yang terlalu sedikit ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali
perubahan siklus menu.
Strategi :
1)
Melakukan evaluasi mengenai
perubahan siklus menu melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin dan
bertahap.
2)
Membuat jadwal
evaluasi mengenai perubahan siklus menu.
Tujuan :
1)
Agar perubahan
siklus menu dapat dilakukan 6 bulan sekali.
c.
Masalah :
1)
Adanya kririk dari
pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali.
Strategi :
1)
Melakukan
pengecekan ulang formula khusus DM oleh petugas penerimaan dan pendistribusian
RSUD A sebelum didistribusikan kepada pasien DM ruang VIP RSUD A.
2)
Melakukan
koordinasi yang runtut dan evaluasi bersama secara berkala mengenai frekuensi
pemberian formula khusus DM.
3)
Menindaklanjuti
keluhan pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A.
4)
Peningkatan
kualitas pelayanan dari tim asuhan gizi RSUD A.
Tujuan :
1)
Agar pasien mendapatkan
kenyamanan dalam pelayanan dari RSUD A dan tidak terjadi kesalahan dalam
pemberian frekuensi pemberian formula khusus DM.
d.
Masalah :
1)
Adanya kritik dari
pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
Strategi :
1)
Ahli gizi RSUD A dapat
mengusulkan menu baru.
2)
Mengadakan evaluasi
melalui hasil angket secara rutin dan berkala.
3)
Melakukan evaluasi
dan pengusulan menu baru oleh ahli gizi RSUD A.
4)
Pemberian edukasi
dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A.
5)
Menindaklanjuti keluhan
pasien DM di ruang VIP oleh ahli gizi RSUD A.
6)
Ahli gizi RSUD A
dapat bekerjasama dengan PT G mengenai perbaikan menu.
Tujuan :
Meningkatkan variasi buah dan penyajiannya.
C.
PEMBAHASAN
1.
Penyelenggaraan
Makanan
Pelayanan
gizi adalah rangkaian kegiatan terapi gizi medis yang dilakukan di institusi
kesehatan (rumah sakit), puskesmas dan institusi kesehatan lain untuk memenuhi
kebutuhan gizi klien/pasien. Pelayanan gizi merupakan upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif dalam rangka meningkatkan kesehatan klien/pasien (Departemen
Kesehatan RI, 2006).
Tim
Asuhan Gizi adalah sekelompok petugas rumah sakit yang terkait dengan pelayanan
gizi terdiri dari dokter/dokter spesialis, nutritionist/dietisien, dan perawat
dari setiap unit pelayanan, bertugas menyelenggarakan asuhan gizi (nutrition care) untuk mencapai pelayanan
paripurna yang bermutu (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Tim
Asuhan Gizi adalah sekelompok petugas rumah sakit yang terkait dengan pelayanan
gizi terdiri dari dokter/dokter spesialis, nutritionist/dietisien, dan perawat
dari setiap unit pelayanan, bertugas menyelenggarakan asuhan gizi (nutrition care) untuk mencapai pelayanan
paripurna yang bermutu (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Penyelenggaraan
makanan merupakan salah satu kegiatan pokok pelayanan gizi. Kegiatan ini akan
membantu upaya untuk penyembuhan dan pemulihan pasien. Proses penyembuhan
pasien dapat dibantu dengan adanya makanan yang memenuhi syarat, baik dari segi
kualitas maupun kuantitas (Almatsier, 2006).
Pelayanan
gizi Rumah Sakit adalah kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit untuk memenuhi
kebutuhan gizi masyarakat rumah sakit baik rawat inap maupun rawat jalan, untuk
keperluan metabolisme tubuh, peningkatan kesehatan, maupun mengoreksi kelainan
metabolisme, dalam rangka upaya preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif
(Departemen Kesehatan RI, 2006).
Ruang
lingkup kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit dibagi atas empat kegiatan pokok
yaitu :1) Asuhan gizi pasien rawat jalan 2) Asuhan gizi pasien rawat inap 3)
Penyelenggaraan makanan 4) Penelitian dan pengembangan gizi (Depkes, 2003).
Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) merupakan pelayanan yang diberikan di rumah
sakit bagi penderita rawat jalan dan penderita rawat inap, untuk memperoleh
makanan yang sesuai guna mencapai syarat gizi yang maksimal. Bentuk pelayanan
gizi di rumah sakit tergantung pada tipe rumah sakit dan macam pelayanan
spesialistik yang diberikan di rumah sakit tersebut (Moehyi, 1995). Bentuk
pelayanan gizi yang paling umum terdapat di rumah sakit adalah penyelenggaraan
makanan bagi penderita yang dirawat di ruang rawat inap di rumah sakit.
Tujuan
umum Pelayanan Gizi Rumah Sakit yaitu terciptanya
sistem pelayanan gizi di RS dgn memperhatikan berbagai aspek gizi dan penyakit
serta merupakan bagian dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh untuk
meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan gizi di RS (Titik, 2013).
a.
Bentuk
Penyelenggaraan Makanan di Rumah Sakit
1)
Penyelenggaraan
makanan sistem swakelola
Jika penyelenggaraan makanan dilakukan
dengan sistem swakelola maka instalasi atau unit pelayanan gizi bertanggung
jawab untuk melaksanakan semua kegiatan penyelenggaraan makanan, mulai dari
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
2)
Penyelenggaraan
makanan sistem Out-sourcing
Sistem out-sourcing yaitu penyelenggaraan makanan dengan memanfaatkan
perusahaan jasaboga atau catering. Sistem out-sourcing
dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu semi out-sourcing dan full
out-sourcing (Depkes, 2006).
b.
Mekanisme
Kerja Penyelenggaraan Makanan
1)
Pengadaan/Pembelian
Bahan Makanan
Pembelian
bahan makanan merupakan salah satu kegiatan pengadaan dalam upaya memenuhi
kebutuhan bahan makanan. Kegiatan pengadaan bahan makanan perlu mendapat
perhatian khusus dari pengelola karena bahan makanan merupakan faktor penentu
kualitas makanan yang akan dihasilkan (Depkes, 1990).
2)
Perencanaan
Menu
Perencanaan
menu adalah suatu kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi
selera konsumen/pasien dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi
seimbang. Perencanaan menu merupakan proses bertahap terdiri dari apa yang akan
disajikan dan kapan makanan tersebut disajikan. Tujuan perencanaan menu adalah
tersedianya siklus menu sesuai dengan pedoman menurut klasifikasi pelayanan
yang ada di rumah sakit (Depkes, 2003).
Perencanaan
menu akan baik hasilnya bila disusun oleh sekelompok orang (panitia kerja) yang
terdiri dari orang-orang yang banyak kaitannya dalam penyelenggaraan makanan
(Depkes, 1991).
3)
Perhitungan
Kebutuhan Bahan Makanan
Perhitungan
kebutuhan bahan adalah kegiatan penyusuanan kebutuhan makanan yang diperlukan
untuk pengabdian bahan makanan. Yang bertujuan tercapainya usulan anggaran dan
kebutuhan bahan makanan untuk pasien dalam satu tahun anggaran (Depkes, 2006).
4)
Pemesanan
dan Pembelian Bahan Makanan
Pemesanan
adalah penyusunan permintaan (order) bahan makan berdasarkan menu atau pedoman
menu dan rata-rata jumlah konsumen atau pasien yang dilayani. Yang bertujuan
agar tersedianya daftar pesanan bahan makanan sesuai standar atau spesifikasi
yang ditetapkan (Depkes, 2006).
5)
Penerimaan,
Penyimpanan dan Penyaluran Bahan Makanan
Penerimaan
bahan makanan merupakan suatu kegiatan yang meliputi memeriksa, meneliti,
mencatat dan melaporkan macam, kualitas dan kuantitas bahan makanan yang
diterima sesuai dengan pesanan serta spesifikasi yang telah ditetapkan (Depkes,
2003). Menurut Moehyi (1992) dalam penerimaan hendaknya perlu diperhatikan
jumlah, jenis, ukuran, kualitas bahan dan batas
kadaluarsanya.
Penyimpanan
bahan makanan adalah suatu tatacara menata, menyimpan, memelihara keamanan
bahan makanan kering dan basah baik kualitas maupun kuantitas di gudang bahan
makanan kering dan basah serta pencatatan dan pelaporannya (Depkes 2003).
Menurut Tarwotjo (1983) penyimpanan bahan makanan adalah suatu kegiatan yang
menyangkut pemasukan bahan makanan, penyimpanan serta penyaluran bahan makanan
ke bagian persiapan dan pengolahan. Dalam penyimpanan bahan makanan perlu
diperhatikan beberapa hal antara lain :
1.
Bahan-bahan
yang cepat mengalami proses pembusukan, tengik, kekeringan.
2.
Bahan
yang dapat disimpan beberapa jam, beberapa hari dan beberapa bulan.
3.
Bagaimana
cara pengaturannya dalam ruang penyimpanan bahan makanan.
Penyaluran
bahan makanan siap pakai dengan kualitatif dan kuantitas yang tepat sesuai
dengan pesanan. Sehingga tersedianya bahan makanan siap pakai dengan kualitas
dan kuantitas yang tepat dengan pesanan (Depkes, 2006).
6)
Persiapan
Bahan Makanan
Persiapan
bahan makanan adalah serangkaian kegiatan dalam penanganan bahan makanan, yaitu
meliputi berbagai proses antara lain membersihkan, memotong, mengupas,
mengocok, merendam, dsb (Depkes, 2006).
7)
Pengolahan
Bahan Makanan
Pengolahan
bahan makanan merupakan satu kegiatan untuk mengubah (memasak) bahan makanan
mentah menjadi makanan yang siap dimakan, berkualitas dan aman untuk
dikonsumsi. Menurut Tarwotjo dan Soejoeti (1983) pengolahan makanan adalah
suatu proses kegiatan terhadap bahan makanan, mulai dari makanan mentah atau
makanan setengah jadi menjadi makanan siap dimakan. Dalam pengolahan makanan
melalui proses yang saling berkaitan yaitu persiapan bahan makanan, pemasakan
dan penyaluran makanan.
Berdasarkan
pendapat Mahmud dan Krisdinamurtirin (1980) pegolahan bahan makanan bertujuan
untuk mempertahankan nilai gizi, meningkatkan nilai cerna, mempertahankan sifat
warna, bau, rasa, keempukan dan penampakan makanan serta bebas dari organisme
yang berbahaya bagi kesehatan.
8)
Pendistribusian
Makanan
Pada
umumnya ada dua cara distribusi makanan yang dilakukan di rumah sakit, yaitu :
1.
Distribusi
makanan yang dipusatkan (sentralisasi).
Makanan dibagikan pada masing-masing
alat makan pasien (plato) di tempat penyelenggaraan makanan kemudian langsung
didistribusikan ke pasien.
2.
Distribusi
makanan tidak dipusatkan (Desentralisasi).
Makanan dibawa dalam jumlah banyak di
wadah-wadah ke dapur ruang perawatan pasien, selanjutnya makanan tersebut
diporsikan ke alat makan yang tersedia kemudian didistribusikan ke pasien.
2. Analisis masalah penyelenggaraan makanan yang terjadi pada RSUD A adalah
sebagai berikut.
2.a. Daya
terima pasien kurang ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu
ganjil terutama pada makan malam
Di RSUD A mengalami masalah pada daya terima pasien yang kurang di tunjukan dari sisa
makanan sebanyak 30% pada setiap pemberian menu
ganjil terutama pada malam hari. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor,
seperti pengulangan bahan dan cara memasak yang sama, serta dapat dikarenakan
dari cara penyajiannya. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk masalah
tersebut, antara lain:
1)
Melakukan evaluasi
perubahan siklus menu terutama menu makan malam secara berkala dan bertahap.
2)
Mengadakan evaluasi
tentang sisa makanan pasien melalui hasil angket tingkat kesukaan secara rutin
dan berkala.
3)
Mengevaluasi sisa
makanan secara berkala.
4)
Mengevaluasi daya
terima pasien terhadap menu yang telah disajikan.
5)
Menetapkan
peraturan mengenai larangan mengkonsumsi makanan selain dari menu yang
diberikan RSUD A.
6)
Pemberian edukasi
dan informasi kepada pasien oleh ahli gizi RSUD A .
Strategi diatas bertujuan mengurangi
persentase sisa makanan dan meningkatkan daya terima pasien DM, serta
meningkatkan variasi menu makanan untuk mencapai target yaitu Sisa makanan ≤
20% , dalam hal ini harus tetap diadakan evaluasi kembali tentang pencapaian
dari target kegiatan yang suda terlaksanakan.
2.b Perubahan siklus menu yang terlalu sedikit
ditunjukkan selama tiga tahun melakukan 3 kali perubahan siklus menu.
Menurut
Uripi (2007), menu merupakan susunan dari beberapa hidangan yang disajikan
untuk seseorang atau sekelompok orang pada waktu makan pagi, makan siang, dan
makan malam serta makan selingan. Dalam pemilihan menu ada beberapa hal yang
perlu dihindari, diantaranya :
1)
Pengulangan bahan dasar
yang sama
2)
Pengulangan cara masak
yang sama
3)
Pengulangan rasa,
bentuk, dan kekentalan yang sama.
Menurut Mukrie (1996) siklus menu yaitu
1 set menu sehari yang disusun selama jangka waktu teretntu (5, 7, atau 10
hari) yang dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu (3, 6, 12 bulan). Jangka
waktu atau siklus menu yang lebih lama akan lebih baik karena akan mencegah
terjadinya pengulangan menu yang terlalu dekat. Dalam pembuatan siklus menu ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu :
1. Menghindari
pengulangan seperti :
a. Bahan
pokok, contoh : perkedel kentang, sup kentang.
b. Warna,
contoh : telur bumbu semur, tempe bacem sama-sama warna
Coklat
c.
Bumbu, contoh : gulai
nangka muda, gulai daging
2.
Rasa hidangan, seperti
manis, asam, gurih, asin
3.
Teknik pengolahan yang
bervariasi, seperti dibakar, direbus, digoreng, atau dikukus.
4. Nilai
gizi yang harus memenuhi dan sesuai
standar kebutuhan gizi.
5. Dana
yang tersedia
6. Jumlah
dan jenis konsumen ( termasuk kebiasaan makan dan kesukaan)
7. Memperhatikan
jumlah hari libur di bulan tsb
8. Standar
resep, porsi, dan bumbu
9. Spesifikasi
bahan makanan
10. Perhatikan
tanggal 31 atau 29 selama berlakunya siklus
11. Macam
dan jumlah pegawai
12. Musim
dan keadaan pasar
13. Pealatan
dan perlengkapan yang tersedia
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan makanan menggunakan siklus
menu 10 hari dengan penambahan menu ke 31, artinya menu tersebut hanya untuk 10
hari makan ( hari ke 1 sampai hari ke 10) dan untuk selanjutnya hari ke 11 menu
itu kembali lagi ke menu awal ( hari ke 1) dan untuk menu ke 31 hanya muncul
pada tanggal 31 saja. Selain itu, setiap
6 bulan sekali diadakan evaluasi susunan
siklus menu. Dari hasil evaluasi
tersebut, maka susunan menu yang sudah digunakan dapat digunakan kembali atau
bisa juga susunan tersebut ditukar
dengan susunan menu lain atau dengan mengkombinasikan menu (Sutardji, 2007).
Dalam hal ini untuk mengurangi
kesalahan terutama dalam perencanaan siklus menu atau penyusunan siklus menu
bisa dilakukan dengan melakukan strategi sebagai berikut:
1)
Melakukan evaluasi
mengenai perubahan siklus menu melalui hasil angket tingkat kesukaan secara
rutin dan bertahap.
2)
Membuat jadwal
evaluasi mengenai perubahan siklus menu.
Strategi diatas bertujuan agar
perubahan siklus menu dapat dilakukan 6 bulan sekali sesuai dengan teori yang
ada. Siklus menu yang digunakan oleh RSUD A
menggunakan siklus menu 10 hari dengan penambahan menu ke 31.Metode ini sudah
sesuai dengan teori yang ada.Untuk pasien kelas VIP dapat memilih makanan
sendiri tetapi disesuaikan dengan kondisi pasien.
Dalam penyusunan siklus menu perlu
memperhatikan spesifikasi bahan makanan dan teknik pengolahannya sehingga dalam
satu putaran siklus menu tidak terjadi pengulangan menu dan tidak menimbulkan
rasa bosan (Depkes, 2006).Di RSUD A selama 3 tahun terakhir ini hanya melakukan
evaluasi susunan siklus menu sebanyak 3 kali saja.Menurut teori (Sutardji,
2007) setidaknya setiap 6 bulan sekali diadakan evaluasi susunan siklus menu. Oleh
karena itu pihak RSUD A mengusulkan kepada PT G untuk melakukan
evaluasi secara berkala mengenai siklus menu yang diterapkan. Ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan siklus
menu yang sedang diterapkan. Selain itu pihak RSUD A juga mengusulkan untuk melakukan
evaluasi terhadap perubahaan siklus menu setiap 6 bulan sekali sesuai dengan
teori yang ada yang bertujuan untuk
mengoptimalkan bahan makanan musiman dan untuk mengurangi persentase
sisa makanan yang terbuang menggunakan metode comstock.
Angket yang disebarkan berisi pertanyaan
tentang tingkat kesukaan dan kepuasan pasien terhadap menu yang telah disajikan
yang bertujuan untuk mengetahui tingkat
ketidaksukaan terhadap menu ganjil pada malam hari yang menyebabkan persentase
sisa makanan sebesar 30%. Setelah itu melakukan evaluasi berdasarkan hasil angket.
Kemudian berdasarkan hasil angket tersebut, ahli gizi RSUD A mengusulkan menu
baru
Menyusun jadwal evaluasi
tentang sisa makanan yang berhubungan
siklus menu kepada PT G. RSUD A menyusun jadwal evaluasi terhadap sisa
makanan yang dapat dilakukan 3 bulan sekali. Jika dalam evaluasi tersebut sisa
makanan ≥ 30% maka pihak RSUD A berhak mengusulkan perubahan siklus menu kepada
PT G. Agar PT G dapat menindak lanjuti usulan dari RSUD A sesegera mungkin.
2.c.
Adanya kritrik dari pasien DM dalam hal frekuensi pemberian formula khusus DM
yang hanya satu kali.
Permasalahan
yang terjadi di RSUD A yaitu adanya kritikan dari pasien DM dalam hal frekuensi
pemberian formula khusus DM yang hanya satu kali. Dimana Kepatuhan pada pasien
terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada
pelayanan diebetes, terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan
penatalaksanaan diabetes. Berdasarkan rekomendasi The American Diabetes
Association (ADA) 2003 Terapi gizi medis memerlukan pendekatan tim yang terdiri
dari dokter, dietisien, perawat dan petugas kesehatan lain serta pasien itu
sendiri untuk meningkatkan kemampuan setiap pasien dalam mencapai kontrol
metabolik yang baik. Hal ini menunjukan pemberian diet pada pasien DM harus di
perhatikan dengan baik, terutama dalam hal ini dalam pemberian formula khusus
DM pemberiannya disesuaikan dengan keadaan dan jenis diet yang akan dijalani
sesuai keadaan dan tingkat keparahan pasien.
Hal
ini di lihat dari definisi, standar porsi adalah jumlah makanan yang harus
disediakan berdasarkan ketetapan rumah sakit menurut kasus contoh sesuai dengan
perolehan jenis diet, diklasifikasikan menjadi diet DM I (1100 Kal), DM II
(1300 Kal), DM III (1500 Kal), diet DM IV (1700 Kal), DM V (1900 Kal), DM VI
(2100 Kal), DM VII (2300 Kal), DM VIII (2500 Kal), yang mengacu pada RS. Cipto
Mangunkusumo (Almatsier, 2004).
Namun
kesalahan ini bisa terjadi dikarenakan beberapa faktor yaitu:
1.
Koordinasi yang kurang
antara ahli gizi rumah sakit dengan ahli gizi PT.G mengenai pemberian diet atau
diet yang akan di jalani oleh pasien sesuai keadaannya.
Kurangnya
koordinasi antara pihak ahli gizi RSUD A dengan Ahli gizi penyelenggara makanan
di PT.G sehingga berdampak pada pelayanan yang kurang baik di lihat dari berbagai masalah yang timbul pada pasien
seperti adanya keluhan atau kritik dari pasien terhadap menu formula khusus yang di sajikan.
2.
Kurang teliti karena
kurang evaluasi dari pihak RSUD A maupun dari pihak PT.G mengenai diet khusus
DM.
Pelayanan
gizi rumah sakit (PGRS) adalah pelayanan yang diberikan di rumah sakit bagi
pasien rawat jalan dan pasien rawat inap, untuk memilih/memperoleh makanan yang
sesuai guna mencapai syarat gizi yang maksimal (Depkes RI, 1990). Kegiatan
pelayanan gizi rawat inap merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi
pengkajian status gizi, penentuan kebutuhan gizi, penentuan macam/jenis diet
sesuai dengan penyakit dan cara pemberian makanan, konseling gizi, serta
evaluasi dan monitoring pelayanan gizi (Depkes, 2006a).
Hal
tersebut menunjukan ketelitian dan evaluasi dalam pelayanan diet pada pasien
harus di perhatikan terutama pasien khusus atau ruangan khusus. Untuk
mewujudkan hasil yang maksimal maka perlu dilakukan dengan strategi meningkatkan
ketelitian dan melakukan evaluasi setiap pemberian menu dengan tujuan
mengurangi kesalahan diet pada pasien terutama diet khusus dan ruang khusus.
Untuk mengurangi kesalahan diatas target yang harus di lakukan Melakukan
evaluasi kerja tim asuhan giziR SUD A dengan ahli gizi PT G.
3.
Kesalahan pelabelan,
pendistribusian,pelaporan, pemesanan, dan perekapan di RSUD A maupun di PT.G
Menurut
Mc. Crosky Larson dan Knapp mengatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat
dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya
antara komunikator dan komunikan dalam setiap komunikasi.Kesalahan ini bisa
saja timbul karena komunikasi yang kurang antara petugas atau koordinator
pemesanan dari pihak rumah sakit dengan petugas perekapan dari pihak PT.G
sehingga pelaporan dan pelabelan bisa keliru. Maka dari hal ini komunikasi
sangat penting untuk mewujudkan ketepatan dalam pelabelan maupun
pendistribusian dalam penyelenggaraan pelayanan makanan terutama
penyelenggaraan pelayanan gizi rumah sakit
Selain
komunikasi cara pendistribusian yang di gunakan juga harus tepat dimana dalam
penyelengaraan makanan ada dua metode yaitu sentral dan disentral. Metode
Sentaral yaitu sistem yang dimana
makanan langsung di porsikan di dapur pusat kemudian di distribusikan,
sedangkan Desentral adalah sistem pendistribusian dimana kegiatan pmorsian dan
produksi di lakukan di dua tempat yang berbeda yaitu makanan di produksi dalam
jumlah besar di dapur instalasi gizi lalu di bawa ke ruangan atau dapur ruangan
kemudiandi porsikan (Depkes,2006). Namun karena RSUD A menggunakan jasa ketring
dari PT.G maka pemorsian langsung dari pihak PT.G maka dalam hal ini perlu
komunikasi dan koordinasi yang efektif dengan tujuan untuk mengurangi kesalahan pemberian label untuk diet pasien.
Untuk
menghindari dan mengurangi
kesalahan-kesalahan seperti yang sudah terjadi maka strategi yang paling utama
di lakukan adalah melakukan koordinasi baik dari pihak ahli gizi rumah sakit
maupun pihak ahli gizi dari PT.G, melakukan pengecekan ulang baik di PT.G
sebelum di antarkan ke rumah sakit
maupun pengecekan ulang oleh pihak RSUD A sebelum di distribusikan ke pasien,
dan melakukan pelabelan yang lebih baik dengan cara mmemberitahukan atau
mengkoordinasikan kepada petugas pemorsian di pihak PT.G sesuai label yang di
minta oleh pihak RSUD A.
Untuk
mengurangi terjadinya kesalahan pemberian diet dan menghindari kritikan dari
pasien teritama dalam pemberian formula khusus DM maka bisa di lakukan dengan
beberapa strategi sebagai berikut:
1) Melakukan pengecekan ulang formula khusus DM
oleh petugas penerimaan dan pendistribusian RSUD A sebelum didistribusikan
kepada pasien DM ruang VIP RSUD A.
2) Melakukan koordinasi yang runtut dan evaluasi
bersama secara berkala mengenai frekuensi pemberian formula khusus DM. Yaitu
dengan mengadakan evaluasi satu minggu sekali setiap kali pemberian formula
khusus DM untukmenguarangi kesalahan diet.
3) Menindaklanjuti keluhan pasien DM di ruang VIP
oleh ahli gizi RSUD A dengan melakukan perbaikan pelayanan khususnya yang di
kritkan pasien yaitu pemberian formula khusus DM harus disesuaikan atau
diberikan sesuai kebutuhan pasien.
4) Peningkatan kualitas pelayanan dari tim asuhan
gizi RSUD A, karena pelayanan yang baik akan membuat pasien merasa nyaman.
Untuk
mengetahui keberhasilan dari strategi yang dilaksanakan maka harus diadakan
monitoring dengan melakukan pengontrolan
pada setiap pengecekan formula khusus DM yang diterima untuk mencapai target
sesuai target pencapaian yaitu formula khusus DM akan diberikan 6x sehari, maka
untuk keberhasilan dari target tersebut diadakan evaluasi lebih lanjut
pemberian yang sudah dicapai.
2.d. Adanya kritik dari pasien DM ruang VIP mengenai pemberian
buah yang kurang
bervariatif
Perusahaan catering diet PT G memiliki
permasalahan pada pemberian buah yang
kurang variatif untuk pasien DM, buah yang diberikan hanya sebatas melon, jeruk, papaya dan tidak
pernah mendapatkan buah yang lain sehingga membuat
pasien merasa bosan. Hal ini diperkirakan perusahaan
catering PT G tidak memberikan pelayanan yang baik.
Dari
masalah tersebut kami mengidentifiksi masalah yang ada, antara lain:
a) Definisi
DM
Diabetes
mellitus atau penyakit gula atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai
dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Diabetes melitus yang terkait
keadaan atau gejala tertentu seperti penyakit pankreas, penyakit hormonal,
obat-obatan / bahan kimia, kelainan insulin / reseptornya, sindrom genetik dll.
b) Faktor
Penyebab Diabetes melittus
Umumnya diabetes melittus disebabkan
oleh rusaknya sebagian kecil atau sebagian besar dari sel-sel betha dari
pulau-pulau Langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin,
akibatnya terjadi kekurangan insulin.Disamping itu diabetes melittus juga dapat
terjadi karena gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukan glukosa kedalam
sel. Gangguan itu dapat terjadi karena kegemukan atau sebab lain yang belum
diketahui
Penderita diabetes harus mengontrol makanan yang mereka konsumsi. Tidak
semua buah dan sayuran dapat mereka konsumsi setiap hari. Ada beberapa makanan
yang harus dihindari, meski makanan itu tergolong sehat. Berikut adalah
buah-buahan yang baik dikonsumsi penderita diabetes karena dapat mengatur kadar
gula darah dalam tubuh, yaitu:
1.
Ceri
Ceri memiliki tingkat indeks glikemik 20 dan kadang-kadang kurang dari itu karena bisa bervariasi. Ini adalah buah yang sehat untuk penderita diabetes untuk mengatur kadar gula darah.
Ceri memiliki tingkat indeks glikemik 20 dan kadang-kadang kurang dari itu karena bisa bervariasi. Ini adalah buah yang sehat untuk penderita diabetes untuk mengatur kadar gula darah.
2. Jambu biji
Buah jambu mengontrol diabetes dan juga baik untuk sembelit. Jambu biji
tinggi vitamin A, Vitamin C dan serat. Namun, buah ini memiliki GI yang cukup
rendah.
3.
Apel
Apel memiliki kandungan tinggi
serat, vitamin C dan juga antioksidan. Apel juga mengandung pektin yang ditemukan
pada kulit dan pulpa. Pektin membantu untuk detoksifikasi tubuh, menghilangkan
produk limbah yang berbahaya. Pektin juga mengandung asam galacturonic yang
telah terbukti untuk menurunkan kebutuhan insulin penderita diabetes hingga
35%. Buah Apel memiliki indeks glikemik yang rendah berada pada peringkat
38.
4. Jeruk
Jeruk memiliki peringkat 48 pada indeks glikemik. Serat yang
tinggi dan kandungan vitamin C dari jeruk membantu mengontrol kadar gula darah.
Jeruk mengandung naringenin yang membantu menyeimbangkan kadar insulin dan
glukosa dalam darah. Jeruk yang rendah lemak dapat membantu anda yang
menurunkan berat badan. Kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor
risiko untuk diabetes.
5.
Pir
Pir mengandung serat, vitamin A, B1,
B2, C, E, asam folat, niasin, tembaga, fosfor, kalium, kalsium, besi dan
magnesium. Pir memiliki peringkat 38 pada indeks glikemik. Pir Cina memiliki
sifat yang paling baik, tetapi semua pir membantu penderita diabetes
meningkatkan kadar gula darah. Pir membantu menurunkan tekanan darah dan
kolesterol, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan memiliki sifat
antioksidan.
6. Anggur
Anggur
rendah nilai glikemik indeks, yaitu hanya sebesar 25 sehingga buah ini bagus
untuk penderita diabetes.
Tabel : penggolongan nilai Indeks glikemik
|
Rentang nilai
GI
|
Golongan
|
Contoh
|
|
< 55
|
Rendah
|
Apel, pisang,
mangga, jeruk, ceriping, jagung, bayam, kubis, brokoli, madu.
|
|
56 - 69
|
Sedang
|
Meloes, buah,
kiwi, pepaya, es krim reguler, gula meja/ sukrosa
|
|
>70
|
Tinggi
|
Labu ,
kentang, semangka, beras wangi/ jamine
rice
|
Sumber:
puspitasari I
Menurut Uripi (2007), menu adalah
susunan hidangan, yang terdiri dari satu atau beberapa macam hidangan yang
disajikan untuk seseorang atau sekelompok orang pada waktu makan pagi, makan
siang, makan malam atau makan selingan. Sedangkan menurut Moehyi (1992), kata
“menu” berarti hidangan makanan yang disajikan pada suatu acara makan, baik
makan siang maupun makan malam. Menu dapat disusun untuk lebih dari satukali
acara makan, misalnya untuk satu hari yang terdiri dari makan pagi, makan
siang, makan malam, serta makan selingan.menu dapat disusun untuk jangka waktu
yang lama, misalnya selama tujuh atau sepuluh hari.
Penyelenggaraan makanan Rumah
sakit A diselenggarakan secara out-sourching yang bekerja sama dengan ketering
dari PT G. Rumah sakit A mengadakan evaluasi yang berhubungan dengan keluhan
yang disampaikan oleh pasien DM ruang VIP mengenai buah buahan yang diberikan
untuk pasien DM hanya sebatas melon, jeruk, papaya dan tidak pernah mendapatkan
buah yang lain.
Masalah
yang terjadi pada RSUD A
adalah buah yang diterima pasien kurang bervariatif. Hal ini bisa disebabkan
dari cara pengolahan buah
yang kurang bervariasi dan jenis buah yang hanya sebatas melon, jeruk, pepaya.Sehingga
membuat pasien bosan, kemudian mengeluh dan memberikan kritik kepada pihak
rumah sakit.
Siklus
menu yang diterapkan oleh PT G adalah, siklus menu 10 hari dengan tambahan menu
31. Misalkan hari senin diberikan
buah melon, menurut perhitungan hari pasti akan mendapatkan buah melon lagi sehingga monoton dan mudah ditebak
pasien. Apalagi jika dalam seminggu atau 10 hari dalam siklus menu mendapatkan buah melon 3x maka akan
terasa lebih bosan apalagi dalam jangka waktu yang lama. Masalah ini dapat
diselesaikan dengan cara pengolahan yang berbeda meskipun dengan jenis buah
yang sama. Pengolahan menu yang lebih bervariasi seperti pengolahan buah tidak
hanya di berikan secara utuh atau dipotong-potong, tetapi buah juga bisa di
olah menjadi olahan yang lebih menarik seperti
puding buah dan jus buah tetapi dengan syarat gula yang diberikan yaitu
jenis gula khusus untuk penyakit DM. Sehingga pasien tidak akan merasa bosan
lagi karena walaupun buah yang disajikan itu sama dengan buah yang kemarin
tetapi cara pengolahannya yang berbeda.
Untuk
pasien VIP pasien dapat memilih makanan sendiri tetapi disesuaikan dengan
kondisi pasien serta dalam penyusunan siklus menu harus memperhatikan menu dan
teknik pengolahannya sehingga meskipun mendapatkan menu yang sama misalkan buah melon selama seminggu
atau 10 hari mendapatkan 3x tapi dengan tehnik pengolahannya berbeda tidak
menimbulkan rasa bosan (Depkes,2006).
Perekapan ulang jenis bahan makanan
lebih detail oleh pihak RSUD A dan pihak PT G supaya tidak terjadi pengulangan pemberian jenis bahan makanan seperti dalam pemberian buah
dan cara pengolahannya secara terus menerus, agar buah yang diberikan ke pasien DM ruang VIP lebih
bervariasi. Dengan cara mengontrol dan melakukan evaluasi antara pihak PT G dengan pihak RSUD A
terhadap menu yang akan di berikan kepada pasien DM di ruang VIP , serta
pengusulan menu baru oleh
pihak RSUD A mengenai
jenis buah dan cara pengolahan kepada pihak PT G
melalui hasil metode angket yang sudah diterapkan oleh pihak RSUD A secara
rutin dan berkala. Disamping itu juga pihak RSUD A memberikan edukasi dan
informasi kepada pasien tentang menu yang baik untuk penderita DM.
Apabila inovasi pengolahan dan
penyajian buah yang diberikan masih kurang disukai oleh pasien. Maka akan
diadakan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor penyebab ketidak
berhasilan. Namun, apabila pasien sudah merasa buah yang diberikan sudah dirasa
baik dalam hal pengolahan dan jenisnya. Pihak tim asuhan gizi rumah sakit tetap
akan melakukan evaluasi secara rutin dan berkala.
7)
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Masalah
yang terjadi dalam penyelenggaraan makanan RSUD A adalah
1.
Menu makanan kurang
bervariasi ditunjukkan dari sisa makanan 30% setiap pemberian menu ganjil
terutama pada makan malam.
2.
Terjadi kesalahan
dalam pemberian diet pada pasien DM ruang VIP yang ditunjukkan dari pemberian
formula khusus DM hanya satu kali.
3.
Adanya kritik dari
pasien DM ruang VIP mengenai pemberian buah yang kurang bervariatif.
SARAN
1.
Melakukan evaluasi
dan penyebaran angket untuk mengetahui tingkat kepuasan dan kesukaan pasien
terhadap menu yang disajikan terutama pada menu ganjil.
2.
Meningkatkan
koordinasi dan komunikasi dari tim ahli gizi RS A dan ahli gizi PT G.
Melakukan
kontrol dan pengecekan ulang pada penyelenggaraan makanan terutama pada
pelabelan, pendistribusian, pelaporan, pemesanan, dan perekapan.
3.
Menindaklanjuti
keluhan dari pasien dan melakukan evaluasi secara bertahap dan berkala.
Mengumpulkan
referensi pengolahan buah dan jenis buah yang baik untuk penderita diabetes.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar