Kamis, 26 Januari 2012

cerpen

Akhir  pencarian cintaku
P
agi yang sangat menegangkan tapi membuatku bahagia karena bisa sampai pada hari ini. Setelah lama bergelut menuntut ilmu dari sejak sekolah dasar hingga akhirnya ku lulus kulyah, dan seperti impianku, Aku ingin menjadi seorang dokter yang di sayangi pasien dan orang- orang di sekelilingku. “ huuuuuuh” ku hembuskan nafas untuk menghilangkan rasa gugup dan nerfes tuk mengawali langkah menuju tempat kerja,  karena 2 bulan yang lalu aku masih melangkahkan kaki menuju kampus tercinta tapi kini berbeda , jalan, serta lorong-lorong yang akan ku lewati bukan lagi lorong kampus tapi lorong rumah sakit yang di prnuhi oleh orang- orang yang membutuhkan uluran tangan para dokter dan perawat tuk merawat mereka “.
Aku terpana melilahat suasana tempat baruku , dan terlontar kata2 syukur di benakku” alhamdulillah akhirnya tercapai juga impianku “ . sesampaiku di rumah sakit , aku di perkenalkan dengan pasien- pasien yang akan aku tangani .
“perkenalkan ini dokter azri” dokter febrian memperkenalkanku “ silahkan dokter azri lanjutkan”
Akupun mulai bicara ”ya perkenalkan saya dokter  azri sartika dewi, biasa dipanggil dokter azri  dan untuk kedepannya saya akan ada di sini untuk menjaga kalian “
Gugup campur bahagia membuatku terdiam sejenak, dan ku melanjutkan perkataanku “ ee mungkin hanya itu yang perlu dokter? Mari kita pergi”
kami pun pergi dan di perjalanan menuju ruang kerjaku, dokter febrian menceritakan seorang pasien yang sudah 5 bulan lamanya ia tinggal di rumah sakit tapi sampai sekarang tak juga sembuh entah apa yang membuatnya tidak bisa sembuh padahal penyakitnya tidak terlalu parah ia awalnya Cuma terkena demam berdarah tapi setelah seminggu di rawat dia terkadang seperti orang yang gangguan jiwa, akan tetapi dokter jiwa dan beberapa pskiater yang sudah memeriksanya berkata sama yaitu ,
“ dia tidak menglami gangguan jiwa Cuma saja dia butuh istirahat dan butuh orang yang bisa dia ajak bicara” akan tetapi hingga sekarang dia masih di rumah sakit , entah apa yang membuatnya seperti itu karena berbagai cara telah orang tua serta keluarganya lakukan tapi tak juga berhasil, dan itu membuatku penasaran .
Sampai di ruang kerja aku terus berfikir kira2 apa yang menyebabkan orang itu seperti itu.
“ting ting” suara alaremku berbunyi  tak sadar bahwa sudah waktunya q pulang , setelah seharian keliling rumah sakit rasanya badanku pegel semua , sampai ku dirumah aku masih teringat dengan cerita dokter febrian tentang pasien yang satu itu’ aku jadi penasaran sampai aku melamun masuk pintu rumah dan ku menabrak mama yang hendak keluar
 “eeeh dasar ni anak” 
“emmm maaf ma azri gak liat”
“Huuuuuuuuuuuh” mama berdengus “ gimana kamu bisa liat mama, mata dan fikiranmu kemna? Ada apa sih cerita dong sama mama?, atao jangan- jangan?.........
Ah mama jangan-jangan apa cobaq?
“ ya siapa tau putri mama yang cantik ini dapat cowok di hari pertama kerja?” mama meledek
“ ih mama ada-ada ja deh” ku membantah perkataan mama
“ ya siapa tau dan lagian gak salah kan kalau kamu dapet pacar, kan selama ini kamu gak punya dan wajar sayang kmu memikirkan hal itu, kamu kan sudah dewasa apa ia kamu akan terus sendiri? Atau kamu mau jadi perawan tua gak nikah2 ?
“’ yaaaa gak juga sieh , tapi azri belum nemu’in orang yang bisa nerima azri apa adanya ma”
“ ya sudahlah tapi mama Cuma ngasih saran, ya kalau kamu belom siap ya sudah, eeee oh ya mama mau ke supermarket bentar, kamu jaga rumah ya” mamapun pergi
“ yaaa, mama hati2 ya”
“ya”
Akupun masuk kamar tapi aku masih tetap terbayang dan penasaran dengan pasien itu, tapi karena capek dan letih akupun merebahkan tubuhku di tempat tidur. Dan istirahat sejenak. “ huuuuuuuh tak terasa malampun tiba dan setelah makan malam bersama keluarga akupun kembali kekamar dan tidur . 
“ tok tok” mama mengetuk pintu kamarku hingga aku tersentak bangun karena terkejut ternyata sudah jam 06.30 pagi dan aku masih tidur
“ aduuuuuuuuh anak mama koq belum bangun, dah jam berapa? Kamu kan mesti kerja” 
“ aduuh mama aku telat ya?”
“ udah mandi sana, anak cewek koq telat bangun” mama menggeleng kepala
“ ya ya” akupun bergegas mandi kemudian siap2, dan selesai sarapan akupun beranjak melangkah ketempat kerja. Dan sampai di rumah sakit aku masih teringat dengan pasien yang pernah diceritakan dokter febrian dan kebetulan hari ini aku tidak punya pasien khusus yang mestiku rawat jadi aku punya kesempatan melihat-lihat pasien lain. Kemudian aku berjalan melalui lorong2 menuju kamar paling ujung timur. Disana aku melihat sosok seorang peria yang sedang duduk memandangi halaman rumah sakit.
Aku mencoba tuk mendekat dan menyapanya “ mas sedang apa? Kenapa duduk disini?”
Dia hanya diam menatap wajahku , lalu aku kembali menyapanya “ mas lihat apa ? pemandangannya bagus?” . tak ada jawaban dia hanya tersenyum , lalu ketika ku berniat pergi dia berkata “ ku mencari inspirasi tuk tema lukisanku”
Kemudian aku berbalik memandangnya dan kembali mengulang kata2 yang ia lontarkan “ mas cari inspirasi untuk tema lukisan?”
“ ya tapi belum aku temukan”  ia maunjawab pertanyaanku , kemudian akupun mengajaknya bicara ,
“ memang tema seperti apa yang mas inginkan”
“ entah apa itu yang jelas yang bisa membuatku tersenyum”
Mendengar jawabannya aku semakin penasaran ada apa sebenarnya dengan pasien ini , dan tak lam setelah aku berbicara banyak dengannya , keluarganya datang dan berkata padaku “ maaf dok apa dia mau bicara sama dokter?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan wanita ini yang mungkin ibunya, aku tidak tahu dia siapa tapi yang jelas dia adalah keluarga pasien tersebut. Akupun menjawab pertanyaan si wanita “ ya memangnya kenapa bu?”
“ selama ini tidak ada orang yang pernah bicara dengannya karena setiap orang yang mengajaknya bicara ataupun menyapanya tak pernah ia jawab”  cerita si wanita .
Akupunpun semakin bingung dan tambah penasaran, hingga aku terdiam.
“ kekasihnya saja pergi bersama laki2 lain karena tidak sanggup menunggunya” ungkap si ibu lagi.
Akupun mencoba mengajak dia bicara lagi, “ mas mau cari tema di tempat lain biar tidak disini saja, mungkin di sebelah sana ada?” dia mengagguk lalu akupun minta izin pada ibunya untuk mengajaknya jalan2 keliling rumah sakit dan sampainya di taman depan rumah sakit dia meminta berhenti. “ stop aku mau disini”
Akupun berhenti dan duduk di kursi samping kursi rodanya , lalu dia berkata “ aku minta kertas dan pensil”
“ mas menemukan inspirasi tema lukisannya?. Tanyaku  seperti orang kebinggungan . iapun kembali menganggukkan kepala , kemudian akupun menyuruh seorang suster mengambilkannya alat lukis, tak lama setelah alat lukisnya di berikan dia kembali melontarka perkataan yang membuatku semakin binggung.
“ aku boleh melukis dokter?” 
Mendengar perkataan itu aku terdiam sesaat karena binggung campur terkejut. Tapi aku mengiakannya , aku terus memandangnya  dan aura wajahnya memperlihatkan suatu kebahagiaan berbeda seperti yang di ceritakan dokter febrian, entah apa yang membuatnya bisa berubah seperti ini , aku bingung dan terlintas beribu pertanyaan  di benakku “ sebenarnya apa yang membuat dia seperti ini?”
“dokter azrii?” sapa dokter febrian mengbanyadarkanku dari lamunan.
“ eeh iya dok?”  ku menjawab dengan nada terkejut
“ sedang apa?” dokter febrian bertanya
Aku terdiam sesaat dan menjawab pertanyaan febrian “ eeeem ini aku lagi menemani dia melukis”   
Raut wajah dokter febrian seperti orang bingung “ eee dia mau bicara pada dokter?, kareanaa, selama dia disini dia tidak pernah mau bicara pada siapapun,”
“ ya aku tidak tau kenapa tapi, tadi pas aku menyapanya dia menjawab ingin melukis lalu aku mengajaknya kesini, karena dia bilang disana tidak ada tempat yang bagus”  
Setelah lama berbincang dengan dokter febrian tak terasa hari sudah siang dan perutku mulai meminta untuk diisi, lalu akupun mengajak pasien itu kembali ke kamarnya, lalu dokter febrian pergi.
“ eeemm ini sudah siang dok mari kita pergi makan siang karena cacing2 perutku sudah sangat lapar” ucapku pada dokter febrian
“ haha dokter ini ternyata pinter bercanda, tapi dokter bener juga, ayo kita pergi” jawab dokter febrian sambil tertawa
“ ya tapi aku antar dia kekamarnya dulu ya” kemudian akupun berlalu meninggalkan taman menuju kamar rawat si pasien.
Setelah seharian di rumah sakit di hari kedua aku semakin capek tubuhku lemes.
Seminggu telah berlalu aku bekerja, dan diselang2 waktu kerjaku aku menemani yudho( pasien) melukis begitu seterusnya hingga suatu hari orangtuanya berkata padaku “ maaf dokter mungkin saya sebagai ibunya lancang kalau berkata seperti ini”
Aku bingung mendengar perkataan si ibu lalu aku berkata “ memangnya ibu mau bilang apa?”
“ sepertinya yudho putraku menyukai dokter” jawab si ibu
Aku menganga terkejut lalu berkata sambil terbata2 “ e e maksud ibu a apa?”
“ ya maksud ibu yudho suka pada dokter, karena setelah sekian lama tinggal di rumah sakit dia tidak pernah mau bicara pada siapapun, tapi sama dokter dia sangat berbeda,”
Aku hanya bisa terdiam mendengar kata2 ibunya.
2 minggu setelah ibunya berkata padaku yudho di bolehkan pulang karena dia sudah sehat. Akan tetapi meskipun dia tinggal di rumahnya aku tetap mengunjunginya sesuai keinginan ibunya.
6 bulan berlalu aku bekerja di rmah sakit, dan bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke 25, dan setiap ulang tahun mama pasti mengeluarkan pertanyaan yang sama “ sayang mana calon menantu mama?” itu dan itu terus aku capek mendengar pertanyaan itu terus. Tapi ya...., memang sudah waktunya untuk mencari pendamping . dan di hari bahagiaku ini aku mengundang banyak orang terutama yudho pasienku. Dan dia datang bersama keluarganya, dan ketika aku sedang duduk sendiri di taman rumahku ada orang yang menyapaku
“ hay  kenapa dokterku melamun” sapa yudho menyadarkanku dari lamunan
“ eee,,mmm yudho? Kamu datang sama siapa?”  jawabku dengan ekspresi terkejut .
“ ee aku datang bersama ibu dan bapak”
“ ooooh sudah lama?” ku kmbali melontarkan pertanyaan
“ gak baru saja ,,, eeeh oh ya pestanyakan mau di mulai kenapa kamu masih disini? Kan yang ulang tahun kamu?” ucap yudho mengingatkanku
“ oh ya ya,, ayo kita kesana”
“ayo”
Kamipun kembali ketengah pesta dan selesai acara peniupan lilin waktunya penyerahan kado, dan orang pertama yang memberikan kado adalah dokter febrian  kemudian yudho, semua bersorak menyuruhku membuka kado yang di brikan dokter febrian tapi aku penasaran dengan isi kado yang di berikan yudho karena bentuknya besar dan tidak memakai kotak kado Cuma di bunkus biasa, lalu akupun membuka kado dari yudho terlebih dahulu , ternyata isinya itu sebuah lukisan yang ia lukis saat dia di rumah sakit. Dan yang lebih membuatku terkejut gambar dalam lukisan itu adalah aku sendiri. Aku menangis tak tahu kenapa entah karena bahagia atau terharu akupun bingung. Kemudian mama memelukku dan berkata.
“ sayang dia mencintaimu”
Mendengar ucapan mama aku semakin tak bisa menhan air mata, lalu mama menenangkanku . hingga akhirnya akupun terdiam .setelah beberapa lama di tengah keramaian pesta yudho kembali membuat kami semua terkejut , dia naik keatas panggung dan berkata.
“ perhatian semuanya, di depan kalian semua saya yudho ingin melamar dokter azri”
Aku terdiam tak tahu mau ngomong apa, lalu mama mengajakku kepanggung. Akupun mengikuti.
“ ayo sayang kamu mau menerimanya apa gak?” tanya mama
Aku hanya diam, aku bingung apa yang mestiku lakukan, pokokny saat itu hatiku tak menentu , aku bahagia . lalu aku brbalik menghadap dia kemuadian ku menjawab lamarannya.
“ oke aku menerima lamaranmu” 
Ketika ku ucap kata tersebut dia tersenyum manis pancaran matanya mengutarakan kalau dia sangat bahagia, lalu dia memeluk erat diriku. Setelah seminggu kamipun melangsungkan akad nikah. Dan kami hidup bahagia , dan dia melnjutkan pekerjaanya menjadi seorang pelukis begitupun aku yang harus membagi waktu untuk tempat kerja dan juga suami tercinta. Dan begitulah seterusnya kehidupan kami.

                                                                                                penulis: Dewi Ratna Sari
                                                                                                alamat : PUJUT. NTB